MUNGKIN RSUD Cibabat adalah rumah sakit yang paling sering gontaganti letak gerbang masuk. Dulu sih jalan cuma satu, ya di tengah. Belakangan diganti jadi kirikanan. Lalu ganti ke tengah lagi. Sekarang sudah permanen, masuk dari gerbang kiri, keluar dari gerbang kanan. Bekas gerbang tengah dijadikan taman dan tempat plang nama RSUD Cibabat.
Ya katanya sih buat pengembangan RSUD. Tapi pengembangan ini membuat hilang salah satu ciri khas dari RS Cibabat. Apa itu? Pohon Pinus (Pinus merkusi). Dulu di bagian depan RSUD ini terbentang taman yang penuh pohon pinus berumur puluhan tahun. Tinggi besar menjulang ke langit. Oleh anak2 cibabat, suka dijuluki Si Raja Langlayangan. Karena pohon pinus penuh oleh layang-layang yang nyangkut.
Dulu, diantara pohon-pohon pinus itulah mimin dan anak-anak Sukajaya, termasuk Asisten Perekonomian Pemkot Cimahi Dikdik S Nugrahawan, bermain sepak bola. Rumputnya yang subur sangat genaheun untuk nyleding. 2 pohon pinus jadi tiang gawang di sebelah kulon dan wetan. Menggocek bola diantara pohon pinus yang menjelma jadi pemain sayap dan tengah.
RS Cibabat juga jadi saksi anak-anak pemberani yang mencari jangkrik pada malam hari di dekat kamar mayat. Biasanya di jalan banyak jangkrik conat dan bike, tapi di dekat kamar mayat selalu ada Jangkrik Kalung.
RSUD Cibabat sendiri punya sejarah yg panjang juga. Sebelum tajun 1940-an, RS Cibabat ini dipakai sbg rumah dinas orang Belanda, yaitu Tuan Rydee, Kepala GBO (Hebe kata orang sunda mah. GBO itu PLN jaman breto).
Jaman Jepang, bangunan dipakai untuk klinik kesehatan. Pengelolaan klinik diserahkan kepada Prpf RH Moechamadsyah Sastrawinangoen DSOG. Beliau sebelumnya buka klinik di Jl Kaum Kaler Cimahi.
Masa revolusi, klinik kesehatan ini berfungsi juga sbg Markas BKR dan Balai Pengobatan bagi tahanan perang dan masyarakat sekitar.
Tahun 1947, masa pengungsian, Pak RH Moechamadsyah pindah tugas jadi Kepala Kesehatan Priangan Timur di Tasikmalaya. Klinik kesehatan Tjimahi dikelola oleh dr Supardan. Fungsinya bertambah lagi sebagai kantpr PMI.
Tahun 1949, pemerintah meningkatkan status klinik jadi RS Pembantu Cibabat yang dikelola oleh Mayor dr Vogelsang.
Tahun 1950, RS Pembantu Cibabat dikepalai oleh dr Sanitioso. Kita tahu rumah dan tempat praktek dr Sanitioso yg pernah dipakai sebagai markas Polisi Istimewa saat ini sudah rata dengan tanah dijadikan tempat parkir BJB JalanAmir Machmud seberang Prapatan Cihanjuang.
Tahun1973, dr Sanitioso diganti oleh dr Abikusna, waktu itu kadinkes KabBandung. Status RS Pembantu meningkat jadi RS Umum Kelas D.
Tahun 1978-1984, direktur RSU Cibabat djjabat oleh dr Nina Sekartina. 1985, dr Umbaran Tisnamihardja jadi Direktur RSU Cibabat sampai 1995. Tahun 1987, status RSU Cibabat naik jadi Kelas C.
Tahun 1995-1999, Direktur RSU Cibabat dijabat dr H Idik Djumhali MARS.
Tahun 2000, jabatan Direktur RSU Cibabat dijabat dr H Hanny Ronosulistyo SpOG. Itu loh dokter yang ngasuh acara Buka Pintu di Radio Mara, acara soal masalah seks.
Tahun 2007 sampai 2010, Dirut RSUD Cibabat dipegang dr Erli Suparli Adiwikarta MM.
Selanjutnya dr Endang K Wardani menjabat mulai 2010 sd 2012. Lalu kembali dijabat dr
Erli.
Sejak 2016, dr Trias Nugrahadi menjabat Dirut RSUD Cibabat sampai sekarang.
(*)
Showing posts with label Cimahi. Show all posts
Showing posts with label Cimahi. Show all posts
Monday, June 24, 2019
Thursday, February 21, 2019
KOLMAS
ADA yang enggak tahu nama Kolmas? Orang Cimahi mah pasti tau atuh nama Kolmas. Nama sebuah jalan yang membentang dari Cimahi hingga ke Baru Ajak Lembang Orang Jakarta saja, tahu jalan ini sebagai jalan alternatif ke Lembang. Ketenaran nama jalan ini setara lah dengan Jalan Gatsu, Jalan Otista, Jalan Sudirman di Bandung.
Saking legendarisnya, banyak orang menyangka Kolmas itu benar-benar nama. Padahal Kolmas adalah singkatan dari Kolonel Masturi. Ya Kolonel Masturi, atau lengkapnya Kolonel Anumerta R Masturi Purwasuganda diabadikan sebagai nama jalan.
Pak Masturi lahir di Bandung, 14 Maret 1925. Bagaimana kiprahnya di masa kemerdekaan, tidak banyak orang yang tahu. Informasi yang diketahui, hanyalah bahwa Masturi pernah menjabat sebagai Bupati Bandung 1967-1969. Masturi menggantikan bupati R Memed Ardiwilaga.
Saat diangkat jadi Bupati, pangkat Pak Masturi ini masih mayor.Masa jabatannya singkat, 2 tahun. Karena keburu meninggal pada 4 Juli 1969. Tugas Pak Masturi ketika itu tak ringan. Indonesia baru diguncang pemberontakan G 30S/PKI. Sisa-sisa kekuatan PKI masih ada di pelosok-pelosok.
Akhir 1967 di Pangalengan, muncul gerombol sisa-sisa PKI. Gerombolan ini bermarkas di Gunung Kencana dan bergerilya di Perkebunan Srikandi. Kekuatan gerombolan ini hanya 27 orang, terdiri atas warga keturunan Tiongkok dan menamakan diri Tentara Pembebas Republik Indonesia (TPRI). Tapi berkat kerja sama ABRI dan masyarakat, TPRI berhasil ditangkap.
Di masa Bupati Masturi, Pemkab Bandung melaksanakan program kerja yang disebut Repeh Rapih Kertaraharja. Repeh Rapih Kertaraharja adalah semboyan Kabupaten Bandung yang dimaksudkan untuk mengusahakan memenuhi hajat hidup rakyat banyak mengangkat sembilan bahan pokok (sembako), terutama beras yang pada waktu itu sebelumnya mengalami krisis dan mengembalikan ketertiban serta keamanan masyarakat yang telah terganggu akibat terjadinya peristiwa G30S/PKI.
Saat pemerintahannya, Masturi merombak organisasi Pemda Kabupaten Bandung. Repelita (rencana pembangunan lima tahun) mulai dikerjakan pada 1 April 1969 sesuai jadwal. Baru saja Repelita dilaksanakan selama 2 bulan, Masturi meninggal dunia pada Jumat 4 Juli 1969 setelah menjabat Bupati Bandung selama 2 tahun 4 Bulan.
Untuk menghargai jasa-jasanya terutama dalam hal pembinaan Orde Baru, pencegahan munculnya kembali sisa-sisa G30S/PKI, mewujudkan situasi dan kondisi yang cocok untuk memenuhi pembangunan serta menyusun Repelita Kabupaten Bandung, DPRDGR Kabupaten Bandung memutuskan untuk memberi gelar "Pahlawan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung" bagi Kolonel Anumerta Masturi.
Mungkin belum tahu juga, kalau Kolmas itu adalah ayahanda BuAtty Suharti, Wali Kota Cimahi periode 2012-2017. Juga ayahnya Pak Wildan Masturi (alm), pernah jadi Kadis Pertambangan di Pemkab Bandung. Pak Masturi dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. (*)
Saking legendarisnya, banyak orang menyangka Kolmas itu benar-benar nama. Padahal Kolmas adalah singkatan dari Kolonel Masturi. Ya Kolonel Masturi, atau lengkapnya Kolonel Anumerta R Masturi Purwasuganda diabadikan sebagai nama jalan.
Pak Masturi lahir di Bandung, 14 Maret 1925. Bagaimana kiprahnya di masa kemerdekaan, tidak banyak orang yang tahu. Informasi yang diketahui, hanyalah bahwa Masturi pernah menjabat sebagai Bupati Bandung 1967-1969. Masturi menggantikan bupati R Memed Ardiwilaga.
Saat diangkat jadi Bupati, pangkat Pak Masturi ini masih mayor.Masa jabatannya singkat, 2 tahun. Karena keburu meninggal pada 4 Juli 1969. Tugas Pak Masturi ketika itu tak ringan. Indonesia baru diguncang pemberontakan G 30S/PKI. Sisa-sisa kekuatan PKI masih ada di pelosok-pelosok.
Akhir 1967 di Pangalengan, muncul gerombol sisa-sisa PKI. Gerombolan ini bermarkas di Gunung Kencana dan bergerilya di Perkebunan Srikandi. Kekuatan gerombolan ini hanya 27 orang, terdiri atas warga keturunan Tiongkok dan menamakan diri Tentara Pembebas Republik Indonesia (TPRI). Tapi berkat kerja sama ABRI dan masyarakat, TPRI berhasil ditangkap.
Di masa Bupati Masturi, Pemkab Bandung melaksanakan program kerja yang disebut Repeh Rapih Kertaraharja. Repeh Rapih Kertaraharja adalah semboyan Kabupaten Bandung yang dimaksudkan untuk mengusahakan memenuhi hajat hidup rakyat banyak mengangkat sembilan bahan pokok (sembako), terutama beras yang pada waktu itu sebelumnya mengalami krisis dan mengembalikan ketertiban serta keamanan masyarakat yang telah terganggu akibat terjadinya peristiwa G30S/PKI.
Saat pemerintahannya, Masturi merombak organisasi Pemda Kabupaten Bandung. Repelita (rencana pembangunan lima tahun) mulai dikerjakan pada 1 April 1969 sesuai jadwal. Baru saja Repelita dilaksanakan selama 2 bulan, Masturi meninggal dunia pada Jumat 4 Juli 1969 setelah menjabat Bupati Bandung selama 2 tahun 4 Bulan.
Untuk menghargai jasa-jasanya terutama dalam hal pembinaan Orde Baru, pencegahan munculnya kembali sisa-sisa G30S/PKI, mewujudkan situasi dan kondisi yang cocok untuk memenuhi pembangunan serta menyusun Repelita Kabupaten Bandung, DPRDGR Kabupaten Bandung memutuskan untuk memberi gelar "Pahlawan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung" bagi Kolonel Anumerta Masturi.
Mungkin belum tahu juga, kalau Kolmas itu adalah ayahanda BuAtty Suharti, Wali Kota Cimahi periode 2012-2017. Juga ayahnya Pak Wildan Masturi (alm), pernah jadi Kadis Pertambangan di Pemkab Bandung. Pak Masturi dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. (*)
Saturday, October 14, 2017
DAENG MUHAMMAD ARDIWINATA
NAMANYA diabadikan menjadi nama jalan, menggantikan nama Jalan Cihanjuang. Nama Daeng identik dengan orang Bugis. Ya karena kakek Daeng Muhammad
Ardiwinata adalah orang Bugis Makassar yang menikah dengan orang Sunda.
Ayah Daeng M Ardiwinata bernama Daeng Kanduruan Ardiwinata, seorang nasionalis yang juga salah seorang pendiri Paguyuban Pasundan. Dialah sastrawan Sunda yang pernah menerima penghargaan dari Belanda "Ridder in de Orde Van Oranye Nassau", karena jasanya di bidang budaya.
Daeng Muhammad Ardiwinata tinggal dan besar di Cimahi. Setelah lulus MULO, keburu Jepang datang. Daeng masuk pendidikan Peta di Bogor. Ketika batalyon IV Peta di Cimahi bubar, Daeng bergabung dengan BKR, lalu TKR.
Kompi Daeng begitu sebutan untuk pasukannya. Tergabung dalam Batalyon IV Momon Resimen 9 Gandawijaya yg bermarkas di Cililin. Kompi 1 Daeng berkedudukan di Cibabat-Cibeureum sampai Fokkerweg (kini Jln Garuda) Bandung.
Kompi Daeng inilah yang terlibat dlm berbagai medan pertempuran di Cimahi. Antara lain pencegatan konvoi tentara sekutu, bersama Hizbullah menyerang pabrik senjata ACW cabang Cibabat,
Pertempuran Alun-alun, pertempuran Cibabat, pertempuran Prapatan Cihanjuang dan yang paling heroik, pertempuran 4 hari 4 malam.
Dari kompi, pasukan Daeng berkembang jadi Batalyon 25, lebih terkenal dgn sebutan Batalyon Daeng.
Dari Cimahi, Batalyon Daeng ditarik ke Resimen 8 dan ditempatkan di Panjalu Garut dan Pangalengan.
Perjanjian Renville memaksa pasukan Siliwangi hijrah ke ibukota Yogyakarta.
Batalyon Daeng turut menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Batalyon Daeng ditugaskan untuk membersihkan dan mengamankan lapangan terbang Maospati Madiun dan merebut kembali Cepu dari penguasaan PKI.
Saat longmarch bersama Pangdan Siliwangi Letkol Daan Yahya ditawan Belanda. Mereka dan juga Komandan CPM Cimahi FE Thanos ditahan di Nusakambangan.
Akhir 1949 setelah pengakuan kedaulatan, Daeng menjadi Komandan Resimen 063/Sunan Gunung Djati Cirebon.
Tahun 1951 ia mengundurkan diri dari TNI. Soal pengunduran diri ini ada banyak versi. Ada yang bilang karena sakit. Ada juga yang bilang karena menolak penugasan ke Makassar. Entah mana yang benar. Pangkat terakhirnya adalah Kolonel.
Pada tahun 1954 ia mendirikan partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) bersama Kolonel Abdul Haris Nasution dan Kolonel Gatot Subroto dan diangkat sebagai Ketua IPKI Jawa Barat.
Pada tahun 1955 sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) RepubIik Indonesia
Pada tahun 1960 sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Pada tahun 1967 s/d 1970 menjabat Direktur PPN Dwikora IV Perkebunan Teh di Subang.
Daeng tak pernah mengambil gaji dan pensiunan dari militer. Ia hanya membawa gaji saat jadi anggota DPR
Jabatan terakhir beliau adalah Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB).
Daeng wafat di usia 77 tahun tepatnya 15 April 2000. Sebelum wafat, Ia menolak dimakamkan di TMP Cikutra. Daeng lebih memilih dikebumikan di samping kuburan istrinya, Siti Rukayah, di Kampung Juntigirang Desa Banyusari Kecamatan Katapang Kab Bandung. Ketika itu ia meninggalkan 5 anak dan 11 cucu. (*)
Sumber tulisan: www.dickyrahmadie.blogspot.com
Ayah Daeng M Ardiwinata bernama Daeng Kanduruan Ardiwinata, seorang nasionalis yang juga salah seorang pendiri Paguyuban Pasundan. Dialah sastrawan Sunda yang pernah menerima penghargaan dari Belanda "Ridder in de Orde Van Oranye Nassau", karena jasanya di bidang budaya.
Daeng Muhammad Ardiwinata tinggal dan besar di Cimahi. Setelah lulus MULO, keburu Jepang datang. Daeng masuk pendidikan Peta di Bogor. Ketika batalyon IV Peta di Cimahi bubar, Daeng bergabung dengan BKR, lalu TKR.
Kompi Daeng begitu sebutan untuk pasukannya. Tergabung dalam Batalyon IV Momon Resimen 9 Gandawijaya yg bermarkas di Cililin. Kompi 1 Daeng berkedudukan di Cibabat-Cibeureum sampai Fokkerweg (kini Jln Garuda) Bandung.
Kompi Daeng inilah yang terlibat dlm berbagai medan pertempuran di Cimahi. Antara lain pencegatan konvoi tentara sekutu, bersama Hizbullah menyerang pabrik senjata ACW cabang Cibabat,
Pertempuran Alun-alun, pertempuran Cibabat, pertempuran Prapatan Cihanjuang dan yang paling heroik, pertempuran 4 hari 4 malam.
Dari kompi, pasukan Daeng berkembang jadi Batalyon 25, lebih terkenal dgn sebutan Batalyon Daeng.
Dari Cimahi, Batalyon Daeng ditarik ke Resimen 8 dan ditempatkan di Panjalu Garut dan Pangalengan.
Perjanjian Renville memaksa pasukan Siliwangi hijrah ke ibukota Yogyakarta.
Batalyon Daeng turut menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Batalyon Daeng ditugaskan untuk membersihkan dan mengamankan lapangan terbang Maospati Madiun dan merebut kembali Cepu dari penguasaan PKI.
Saat longmarch bersama Pangdan Siliwangi Letkol Daan Yahya ditawan Belanda. Mereka dan juga Komandan CPM Cimahi FE Thanos ditahan di Nusakambangan.
Akhir 1949 setelah pengakuan kedaulatan, Daeng menjadi Komandan Resimen 063/Sunan Gunung Djati Cirebon.
Tahun 1951 ia mengundurkan diri dari TNI. Soal pengunduran diri ini ada banyak versi. Ada yang bilang karena sakit. Ada juga yang bilang karena menolak penugasan ke Makassar. Entah mana yang benar. Pangkat terakhirnya adalah Kolonel.
Pada tahun 1954 ia mendirikan partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) bersama Kolonel Abdul Haris Nasution dan Kolonel Gatot Subroto dan diangkat sebagai Ketua IPKI Jawa Barat.
Pada tahun 1955 sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) RepubIik Indonesia
Pada tahun 1960 sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Pada tahun 1967 s/d 1970 menjabat Direktur PPN Dwikora IV Perkebunan Teh di Subang.
Daeng tak pernah mengambil gaji dan pensiunan dari militer. Ia hanya membawa gaji saat jadi anggota DPR
Jabatan terakhir beliau adalah Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB).
Daeng wafat di usia 77 tahun tepatnya 15 April 2000. Sebelum wafat, Ia menolak dimakamkan di TMP Cikutra. Daeng lebih memilih dikebumikan di samping kuburan istrinya, Siti Rukayah, di Kampung Juntigirang Desa Banyusari Kecamatan Katapang Kab Bandung. Ketika itu ia meninggalkan 5 anak dan 11 cucu. (*)
Sumber tulisan: www.dickyrahmadie.blogspot.com
Sunday, September 3, 2017
Riwayat Bioskop Rio
Satu-satunya bangunan bioskop zaman Belanda di Cimahi yang gedungnya masih bertahan. Namun bioskopnya sudah gulung layar.
Bioskop Rio merupakan bagian dari jaringan bioskop Elita Concern. Siapa lagi yang punya jaringan bioskop itu kalau bukan Si Raja Bioskop, FAA Busè.
Ya Busè adalah pemilik sejumlah bioskop kelas atas di Bandung. Sebut saja nama bioskop Elita, Varia, Oriental, Luxor, Majestic dan Rex. Pembangunan bioskop Rio ditandai dengan peletakan batu pertama oleh anak FAA Busè, Yvonne Francois Busè, pada 23 Oktober 1937.
Dari penelusuran admin TH, berdasarkan pemberitan koran2 lawas Belanda seperti De Preangerbode dan Batavianieuwsblad, bangunan bioskop sempat mengalami kerusakan dan baru bisa dioperasikan pada tahun 1947. Film pertama yang diputar berjudul Pardon My Sarong pada 23 Maret 1947. Lalu pada tanggal 31 Maret memutar film berjudul Tall in the Saddle.
Sejak itu Bioskop Rio konsisten memutar film2 Hollywood antara lain film Always in My Heart dan Now Voyager. Tak ketinggalan Rio pun memutar film Indonesia. Tjitra pada tahun 1951 dan Bakti pada 1955.
Bioskop Rio pun sempat dijadikan tempat kampanye pada Pemilu 1955,
antara lain oleh Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia)
bentukan AH Nasution.Tahun 70-an sampai 80an, bioskop Rio dibanjiri film-film Mandarin khususnya kungfu. Nama2 beken seperti Wang Yu, Bruce Lee, Chen Lung, dan Lie Lien Cheh menghiasi poster film di depan dan lobi bioskop.
Film nasional berkelas seperti Sunan Kalijaga, Saur Sepuh juga diputar di sini. Selain poster, Rio pun mengandalkan selebaran pamflet yang disebar melalui mobil berpelantang keliling Cimahi. Anak-anak selalu berebutan selebaran itu setiap dilempar ke luar mobil.
Tahun 90an, ketika booming film esek-esek, Rio pun tak ketinggalan. Film Gadis Metropolis, Ranjang Berdarah, Setetes Noda Berdarah dengan poster besar terpajang vulgar.
Itulah hari-hari suram dan terakhir bioskop Rio. Bioskop yang dulu jadi kebanggaan warga Cimahi perlahan mulai surut dihajar zaman. Sampai akhirnya gulung layar.
Bangunannya sempat menganggur. Sekitar tahun 2010an, bioskop direvitalisasi. Sebagian besar masih tetap, terutama bagian atas. Namun bagian depan tembok dinding depan dan samping hilang. Padahal di situ ada plakat pendirian bangunan. Kini wajah Bioskop Rio berubah menjadi konter ponsel. (*)
Friday, January 20, 2017
Kisah Lapangan di Cimahi
Oleh Kang Mac
SETIAP pergi ke Pasar Antri Baru dari arah Dustira, tentu melewati markas Pu
ssen Arhanud. Setiap itu pula teringat, dulu tempat itu adalah Lapangan Sriwijaya yang penuh kenangan.
Bermain bola, upacara 17 Agustus, latihan baris-baris berbaris, atau mabal alias bolos sekolah, tempatnya ya di Lapangan Sriwijaya ini. Tempat pacaran? So pasti itu mah, tiap lewat lapangan rumput hijau nan luas itu pasti bisa menyaksikan pasangan yang lagi asyik dengan dunianya.
Tempat berkelahi? Mantaap, itu lapangan menyediakan lahan sangat lega buat berduel atau berkelahi keroyokan. Mau kejar-kejaran, koprol keliling lapangan, silakan asal kuat.
Jadi pasti banyak kenangan lain yang bisa diceritakan dari satu Lapangan Sriwijaya ini. Ya hanya kenangan, karena wujud lapangan itu sudah sirna, hanya tertinggal di ingatan.
Perkembangan Cimahi menjadi kota membuat lahan semakin sempit. Lapangan-lapangan pun menjadi korban. Kini wujudnya berganti rupa menjadi rumah atau perkantoran.
Ini beberapa lapangan yang saya ingat pernah ada di Cimahi.
1. Lapangan Bonlap. Inilah lapangan legendaris untuk para pemain bola cilik di Cimahi. Di era 80-an, di lapangan Kebon Kalapa Pojok ini setiap tahun digelar pertandingan sepak bola antar klub di Cimahi.
Waktu SD kelas 6, saya pernah ikut berkompetisi di lapangan ini. Waktu itu saya memperkuat klub Angkasa, gabungan siswa-siswa SD Sukamanah I dan Cibabat. Pemain yang boleh bertanding adalah pemain dengan tinggi maksimal 150 cm. Jadi ukurannya adalah tinggi badan. Kadang-kadang ada pemain yang ketinggian, lalu memendek-mendekkan diri biar lolos di palang pengukur.
Lalu saat SMP pun saya ikut pula berkompetisi di lapangan Bonlap ini. Kali ini saya memperkuat tim Liga Buana, timnya anak-anak SMP 3 Cimahi plus. Plus karena kami menggaet juga pemain dari luar, yaitu Aldi, kakaknya Coni Dio, sebagai striker. Nama klub ini terinspirasi nama-nama toko olahraga di Jalan Gandawijaya.
Saya tidak tahu kapan terakhir digelar kompetisi bola di lapangan Bonlap. Waktu saya SMA, tahun 90-an, lapangan ini masih ada dan sering dipakai untuk panggung musik 17-an. Saya pertama kali nonton Jamrock, cikal bakal Jamrud, ya di lapangan ini.
Beberapa hari lalu saya lewat Jalan Kebon Kalapa, lapangan ini sudah hilang, berganti jadi rumah dan bengkel.
2. Lapangan Sosial. Lapangan sepakbola ini disebut Lapang Sosial karena memang milik Dinas Sosial di Cibabat, persis di samping Polres Cimahi. Pernah saya sekali diajak main di turnamen bola Kapolres Cup. Waktu itu bersama klub Gita Utama. Lagi-lagi main bersama Aldi, kakak Coni Dio. Sekarang lapangan ini sudah beralih rupa menjadi Kantor Dinsos Jabar.
3. Lapangan Kebon Kembang. Ini sebuah lapang kecil, sedikit lebih besar dari lapangan voli, di daerah Kebon Kembang. Saya pernah main di sini, waktu itu turnamen Hayam Cup. Hanya saya lupa PS apa yang saya perkuat.
4. Lapangan samping Mesjid Agung Cimahi Utara. Ini tempat saya bermain setiap sore. Kalau tidak bermain bola ya main sepeda atau nonton orang main voli. Sekali waktu digelar turnamen sepakbola untuk anak-anak. Saya memperkuat PS Martas, barisan anak-anak dari Gang Martasim Prapatan Cihanjuang, tempat kakek nenek saya tinggal. Saat ini bangunan rumah besar mengganti wujud lapangan itu.
5. Lapangan Kebon Jeruk Sukajaya. Ini sebetulnya lahan bekas kebun Jeruk di daerah Sukajaya Cibabat, persis di belakang RSUD Cibabat. Ada beberapa kavling kecil yang sering dipakai untuk bermain bola atau bermain voli. Saya bergabung dengan PS Persas (Persatuan Sepakbola Anak-anak Sukajaya), tapi belum pernah bertanding di turnamen bola. Sekarang lapangan ini sudah berubah menjadi perumahan dan permukiman.
6. Lapangan Krida Cimahi Selatan. Ini lapangan sepakbola di dekat Baros. Saya belum pernah bermain bola di lapangan ini. Hanya pernah ikut jalan sehat yang start dan finishnya di lapangan ini. Kini lapangan ini tinggal cerita, berubah menjadi kawasan Technopark Cimahi.
7. Lapangan Kebon Manggu, Kompleks Pemda Cisangkan Hilir. Saya beberapa kali main sepakbola di lapangan ini. Karena diajak teman yang tinggal di sini. Waktu itu memperkuat tim ekskul Sepak bola SMP melawan PS Pemda junior. Tempo hari saya menjenguk teman yang sakit di daerah Kebon Manggu. Saya celingukan mencari lapangan itu, tapi nihil. Ternyata sudah berubah menjadi belantara rumah. Selain di lapang besar Kebon Manggu, saya pun pernah main juga di lapangan bola samping Tempat latihan Menembak Cisangkan. Lapangannya lebih kecil, tapi cukup buat berlari dan menendang bola.
8. Lapang sepakbola Panembakan Gunung Bohong. Lapangan bolanya saat ini memang masih ada, tapi berbeda tampilan setelah dirombak Brigif. Sekali-kalinya main di lapangan ini melawan kesebelasan anak-anak Gunung Bohong. Kebetulan ada teman SMP yang tinggal di Gunung Bohong dan mengajak main bola.
9. Lapangan Gamblok, Ciuyah. Ini salah satu lapangan yang pernah didatangi untuk berolahraga sekaligus piknik saat saya SD. Dari Tagog, lagi-lagi kami berjalan kaki berombongan, konvoi berbaris dua-dua menyusuri Margaluyu-Kandang Uncal-Ciawitali hingga Ciuyah. Beberapa waktu lalu bersepeda ke daerah Ciuyah, sengaja mencari lapangan itu. Tapi tak menemukan. "Lapangna tos janten perumahan, Cep," begitu kata seorang warga.
Itulah beberapa lapangan yang dulu pernah ada dan kini tinggal kenangan. Kalau lapangan punya militer, jangan ditanya, pasti terawat dan masih eksis. Contohnya Lapangan Rajawali atau Lapangan Arhanud, tempat saya berlatih bola saat SMP. Belum lagi lapangan-lapangan di beberapa pusdik, pasti masih mulus.
Masih banyak atau ada lapangan-lapangan, lahan terbuka, yang sudah berubah wujud di Cimahi. Entah jadi rumah, kantor, atau gedung. Ayo ceritakan kisah kalian tentang lapangan-lapangan di Cimahi. (*)
Sunday, February 21, 2016
Asal Usul Leuwigajah (Toponomi Nama-nama Daerah di Cimahi -1)
oleh Kang Mac
MENGAPA ada nama Leuwigajah di Cimahi? Apa dulu memang pernah hidup Gajah di Cimahi, terus mandi di Leuwi? Begitu pertanyaan beberapa kawan soal toponimi atau asal usul nama Leuwigajah.
Sebelum mengupas nama Leuwigajah, perlu diketahui sebelumnya, bahwa binatang Gajah sudah lama hidup di tanah Sunda. Gajah purba pernah hidup di Tatar Sunda sekitar 35 ribu tahun yang lalu. Fosilnya ditemukan di Rancamalang, Kabupaten Bandung. Juga ditemukan di Baribis Majalengka, Cibinong Bogor, Cikamurang, dan Tambakan Subang.
Lalu memasuki fase
sejarah, di zaman kerajaan Tarumanagara, abad ke 4 Masehi hingga 7
Masehi, binatang Gajah pun familiar dan dikenal masyarakat. Salah satu
buktinya adalah Prasasti Kebon Kopi peninggalan raja termasyhur
Tarumanagara, Maharaja Purnawarman, yang ditemukan di kebun kopi milik
Jonathan Rig di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor.
Selain tulisan beraksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, pada prasasti itu, terdapat lukisan tapak kaki gajah. Tulisan prasasti itu berbunyi "jayavis halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam" (Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa). Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra, dewa perang dan penguasa guntur.
Kekuatan binatang gajah ini juga menjadi inspirasi pemberian nama. Misalnya saja, Prabu Gajah Agung, raja Sumedanglarang, keturunan Prabu Tajimalela. Nama lahirnya adalah Atmabrata, namun saat jeneng jadi raja menggantikan kakaknya, Prabu Lembu Agung, ia memakai nama nobat Prabu Gajah Agung. Kini nama Prabu Gajah Agung diabadikan sebagai nama jalan di Sumedang kota.
Selain nama Gajah, untuk menyebut binatang besar itu, masyarakat pun mengenal nama Liman, berasal dari bahasa Sanskerta. Liman pun dipakai sebagai nama orang. Misalnya, Rajaputera Suraliman, adalah raja kedua Kerajaan Kendan di Nagreg. Lalu ada pula nama Liman Sanjaya. Dalam Babad Limbangan, disebutkan, Liman Sanjaya adalah putra dari Prabu Siliwangi hasil perkawinannya dengan Nyi Putri Limbangan, anak Sunan Rumenggong. Ia menjadi Prabu di Kerajaan Dayeuh Luhur atau Dayeuh Manggung.
Nama Liman dijadikan pula sebagai nama tempat, yaitu Palimanan. Malah di Cirebon pun, ada nama Pagajahan. Konon, diberi nama Pagajahan, karena banyak terdapat gajah-gajah pemberian dari negeri asing kepada Cirebon. Nama gajah juga dikenal dalam carita pantun Sunda. Seperti Gajah Lumantung. Gajah Lumantung adalah nama seorang raja di daerah yang disebut Pasir Batang Lembur Tengah.
Nah soal Leuwigajah, memang benar berasal dari cerita gajah yang mandi, lebih tepat, dimandikan di leuwi. Leuwi adalah kosakata bahasa Sunda. Dalam bahasa Indonesia, kira-kira sama artinya dengan Lubuk.
Berdasarkan Babad Batulayang, seperti yang dikutip dalam buku Sejarah Cimahi, dulu Dalem Batulayang, yaitu Dalem Abdul Rahman, ditugaskan membantu VOC di Palembang. Jabatan Dalem Batulayang lalu diserahkan kepada adiknya. Tahun 1770, Abdul Rahman kembali pulang ke Batulayang, sambil membawa oleh-oleh berupa seekor gajah besar.
Karena itu pula, Abdul Rahman dikenal sebagai Dalem Gajah. Selama gajah itu hidup, selalu dimandikan di sebuah Leuwi atau lubuk di daerah Cimahi Selatan. Akhirnya, tempat itu pun dikenal sebagai Leuwigajah. Sementara bukit di belakang Cibogo, dikenal sebagai Gunung Gajah Langu. Disebut demikian, karena gajah yang diangon sampai ke bukit itu sering terlihat ngalangu (melamun, bhs Sunda).
Dalem Batulayang tinggal di daerah Kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Kutawaringin. Karena gajah dari Palembang itu berkandang di sana, kampung itu pun dikenal pula sebagai Kampung Gajah. Lama-kelamaan, namanya bertambah menjadi Kampung Gajah Mekar dan Kampung Gajah Eretan.
Makam Dalem Abdul Rahman atau Dalem Gajah bisa ditemukan di Kampung Bojong Laja, Kutawaringin. Di Kampung Gajah Eretan, juga terdapat situs makam Embah Dalem Gajah. Bisa jadi ini petilasannya. Lalu, masih di Kutawaringin, juga ada makam Eyang Gajah Palembang. Sepertinya, ini adalah makam Gajah asal Palembang itu yang mati tua. (*)
Tulisan diambil dari blog keluargamac.blogspot.com. Klik link tulisan di sini.
MENGAPA ada nama Leuwigajah di Cimahi? Apa dulu memang pernah hidup Gajah di Cimahi, terus mandi di Leuwi? Begitu pertanyaan beberapa kawan soal toponimi atau asal usul nama Leuwigajah.
Sebelum mengupas nama Leuwigajah, perlu diketahui sebelumnya, bahwa binatang Gajah sudah lama hidup di tanah Sunda. Gajah purba pernah hidup di Tatar Sunda sekitar 35 ribu tahun yang lalu. Fosilnya ditemukan di Rancamalang, Kabupaten Bandung. Juga ditemukan di Baribis Majalengka, Cibinong Bogor, Cikamurang, dan Tambakan Subang.
Lalu memasuki fase
sejarah, di zaman kerajaan Tarumanagara, abad ke 4 Masehi hingga 7
Masehi, binatang Gajah pun familiar dan dikenal masyarakat. Salah satu
buktinya adalah Prasasti Kebon Kopi peninggalan raja termasyhur
Tarumanagara, Maharaja Purnawarman, yang ditemukan di kebun kopi milik
Jonathan Rig di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Selain tulisan beraksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, pada prasasti itu, terdapat lukisan tapak kaki gajah. Tulisan prasasti itu berbunyi "jayavis halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam" (Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa). Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra, dewa perang dan penguasa guntur.
Kekuatan binatang gajah ini juga menjadi inspirasi pemberian nama. Misalnya saja, Prabu Gajah Agung, raja Sumedanglarang, keturunan Prabu Tajimalela. Nama lahirnya adalah Atmabrata, namun saat jeneng jadi raja menggantikan kakaknya, Prabu Lembu Agung, ia memakai nama nobat Prabu Gajah Agung. Kini nama Prabu Gajah Agung diabadikan sebagai nama jalan di Sumedang kota.
Selain nama Gajah, untuk menyebut binatang besar itu, masyarakat pun mengenal nama Liman, berasal dari bahasa Sanskerta. Liman pun dipakai sebagai nama orang. Misalnya, Rajaputera Suraliman, adalah raja kedua Kerajaan Kendan di Nagreg. Lalu ada pula nama Liman Sanjaya. Dalam Babad Limbangan, disebutkan, Liman Sanjaya adalah putra dari Prabu Siliwangi hasil perkawinannya dengan Nyi Putri Limbangan, anak Sunan Rumenggong. Ia menjadi Prabu di Kerajaan Dayeuh Luhur atau Dayeuh Manggung.
Nama Liman dijadikan pula sebagai nama tempat, yaitu Palimanan. Malah di Cirebon pun, ada nama Pagajahan. Konon, diberi nama Pagajahan, karena banyak terdapat gajah-gajah pemberian dari negeri asing kepada Cirebon. Nama gajah juga dikenal dalam carita pantun Sunda. Seperti Gajah Lumantung. Gajah Lumantung adalah nama seorang raja di daerah yang disebut Pasir Batang Lembur Tengah.
Nah soal Leuwigajah, memang benar berasal dari cerita gajah yang mandi, lebih tepat, dimandikan di leuwi. Leuwi adalah kosakata bahasa Sunda. Dalam bahasa Indonesia, kira-kira sama artinya dengan Lubuk.
Berdasarkan Babad Batulayang, seperti yang dikutip dalam buku Sejarah Cimahi, dulu Dalem Batulayang, yaitu Dalem Abdul Rahman, ditugaskan membantu VOC di Palembang. Jabatan Dalem Batulayang lalu diserahkan kepada adiknya. Tahun 1770, Abdul Rahman kembali pulang ke Batulayang, sambil membawa oleh-oleh berupa seekor gajah besar.
Karena itu pula, Abdul Rahman dikenal sebagai Dalem Gajah. Selama gajah itu hidup, selalu dimandikan di sebuah Leuwi atau lubuk di daerah Cimahi Selatan. Akhirnya, tempat itu pun dikenal sebagai Leuwigajah. Sementara bukit di belakang Cibogo, dikenal sebagai Gunung Gajah Langu. Disebut demikian, karena gajah yang diangon sampai ke bukit itu sering terlihat ngalangu (melamun, bhs Sunda).
Dalem Batulayang tinggal di daerah Kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Kutawaringin. Karena gajah dari Palembang itu berkandang di sana, kampung itu pun dikenal pula sebagai Kampung Gajah. Lama-kelamaan, namanya bertambah menjadi Kampung Gajah Mekar dan Kampung Gajah Eretan.
Makam Dalem Abdul Rahman atau Dalem Gajah bisa ditemukan di Kampung Bojong Laja, Kutawaringin. Di Kampung Gajah Eretan, juga terdapat situs makam Embah Dalem Gajah. Bisa jadi ini petilasannya. Lalu, masih di Kutawaringin, juga ada makam Eyang Gajah Palembang. Sepertinya, ini adalah makam Gajah asal Palembang itu yang mati tua. (*)
Tulisan diambil dari blog keluargamac.blogspot.com. Klik link tulisan di sini.
Wednesday, February 3, 2016
Blogger: Jelajah Kamp Interniran Jepang Baros 6
DIANTARA para pegiat Tjimahi Heritage Trail, ada beberapa yang selalu menuliskan hasil jelajahnya. Salah satunya adalah Kang Andrenaline Katarsis. Berikut cuplikan tulisan Kang Andre di blognya, jelajahcimahi.blogspot.com dengan judul Jelajah Kamp Interniran Jepang - Baros 6.
Hari Minggu, 5 April 2015, untuk pertama kalinya saya mengikuti acara wisata sejarah bersama komunitas penggiat sejarah Kota Cimahi, Tjimahi Heritages Trail, menapaktilasi lokasi kamp interniran Jepang yang berada di Baros, Kota Cimahi. Setelah sekian kalinya saya bergabung dan berkomunikasi secara virtual, dengan melempar isu sejarah sekaligus menjadi pancingan saya untuk mengetahui sejarah Cimahi melalui grup Facebook Tjimahi Heritages, baru kesempatan inilah akhirnya saya bisa bertemu langsung alias kopi-darat dengan anggota grup. Momen ini menjadi awal yang penting, karena biasanya saya melakukan blusukan ke kota Cimahi sendirian, dengan segala aspek kekurangannya, maka pada kesempatan ini saya aprak-aprakan secara rombongan, tentu saja dengan segala kelebihannya.
Hari Minggu, 5 April 2015, untuk pertama kalinya saya mengikuti acara wisata sejarah bersama komunitas penggiat sejarah Kota Cimahi, Tjimahi Heritages Trail, menapaktilasi lokasi kamp interniran Jepang yang berada di Baros, Kota Cimahi. Setelah sekian kalinya saya bergabung dan berkomunikasi secara virtual, dengan melempar isu sejarah sekaligus menjadi pancingan saya untuk mengetahui sejarah Cimahi melalui grup Facebook Tjimahi Heritages, baru kesempatan inilah akhirnya saya bisa bertemu langsung alias kopi-darat dengan anggota grup. Momen ini menjadi awal yang penting, karena biasanya saya melakukan blusukan ke kota Cimahi sendirian, dengan segala aspek kekurangannya, maka pada kesempatan ini saya aprak-aprakan secara rombongan, tentu saja dengan segala kelebihannya.
Sesuai
jadwal acara dimulai jam 08.00 pagi, dengan terlebih dahulu berkumpul di Taman
URIP yang terletak di jalan Urip Sumoharjo, Cimahi. Setelah saya memarkir motor
di parkiran Rumah Sakit Dustira, saya hanya perlu waktu sekitar 10 menit
berjalan kaki menuju Taman Urip. Dari kejauhan saya melihat sudah ada yang
berkumpul disana. Saya kemudian mencoba sedikit mengingat-ingat paras
wajah-wajah yang biasanya hanya saya lihat di foto grup. Karena interaksi
komunikasi saya di grup itu bisa dibilang cukup rutin, jadi hanya ada beberapa
wajah dengan mudah bisa saya kenali. Ada Iwan Hermawan, kang Machmud Mubarok, kang Dede
Syarif HD, kang Yarman
Mourly dan Mochamad Sopian Anshori dan beberapa wajah yang sebenarnya familiar
tapi rasanya sulit untuk mengingat sepotong namanya. Acara ini ternyata diikuti
juga oleh beberapa siswa kelas VI SD Lingga
Budi. Tanpa
ada rasa kikuk dan kaku, saya langsung menyalami dan bertukar sapa dengan
mereka.
Saturday, January 30, 2016
Tjimahi Heritage Trail 1: Jelajah Kamp Interniran Jepang Baros 6
INI jelajah, atau Trail dalam istilah TH, sekaligus menjadi kopi darat pertama Tjimahi Heritage. Setelah sekian lama, hanya kongkow di grup Facebook dan kegiatan CDB (Cimahi Dalam Bingkai) yang vakum. Saya dan Kang Iwan memilih tema Kamp Interniran Baros 6, karena paling mudah dijangkau. Rutenya tidak terlalu jauh. Perizinan tak ribet. Saya hanya menghubungi Ketua RW Baros Kompleks, karena akan melewati kompleks itu.
Minggu pagi, 5 April 2015. Titik pertemuan sudah ditetapkan di Taman Urip samping RS Dustira, Jalan Urip Sumohardjo. Ini taman yang kembali ditata oleh Pemkot Cimahi. Di zaman kolonial, taman ini bernama Emma Park. Jalan Urip dulu bernama Emmalaan. Nama Emma, sama dengan nama Hotel Emma di daerah Sukimun (Schoolweg). Nama itu mengacu pada nama Ratu Emma, istri kedua Raja Willem III yang berkuasa pada 1817-1890.
Kang Iwan sudah stand by sebelum pukul 08.00. Sejumlah peserta mulai berdatangan. Satu sama lain banyak yang belum kenal. Akhirnya berkumpullah sekitar 40 orang, bahkan lebih, di Taman Urip. Ada pegiat-pegiat Cimahi yang ikut serta, seperti seniman Kang Dede Syarif, Kang Budi Raharjo, Kang Heru Hermawan, dan Teh Primas. Lalu hadir pula Mas Suyanto Lumaksono dari gereja St Ignatius, kang Andrenaline Katarsis dan Kang Moh Sopian Ansori dari Balad Junghuhn. Rupanya kegiatan ini pun "dipantau" orang Bandung. Itu terlihat dari kehadiran Bu Endang Arie Soedarmojo, pegiat segala jelajah.
Yang lebih menyenangkan, ikut serta pula adik-adik dari SD Kihapit (Lihat foto di sini). Mereka yang duduk di bangku kelas 6 ini diajak oleh gurunya, Teh Erwanti. Alasannya, supaya tahu sejarah Cimahi.
Tentu banyak wajah-wajah baru yang kenal belakangan, seperti Pak Aryadi, Kang Agung, Mbak Yustinia, dan lain-lain. Ada juga senior-senior saya di SMA dulu, Kang Yarman dan istrinya, Teh Lisna.
Setelah perkenalan, kami kemudian berfoto-foto di Taman Urip dan di depan asrama dokter RS Dustira. Selanjutnya, kami pun berdoa untuk memulai jelajah. Rombongan berjalan ke arah selatan, menuju kawasan Brigif di Kebon Rumput. Di sepanjang jalan, saya dan Kang Iwan bergantian memandu dan bercerita tentang kisah-kisah dan sejarah di seputaran kawasan Dustira, Ubug, Brigif, hingga ke Baros.

Di lapang voli Adiraga, dekat Markas Koramil, kami berhenti. Saya menerangkan tentang sejarah kompleks Kebun Rumput dan Basis. Dulu, kompleks ini merupakan kompleks perumahan serdadu dan perwira Depot Mobiele Artillerie (DMA). DMA kini menjadi Pusdik Artileri. Selain rumah serdadu, Kompleks Basis merupakan kandang kuda.
Dulu kawasan ini disebut Graslanden, yang artinya padang rumput atau kebun rumput. Dipersiapkan sejak tahun 1910. Kawasan yang memang diperuntukan bagi keperluan kavaleri dan kuda-kuda penarik meriam artileri. Membentang luas dari belakang Pusdik Art hingga ke perbatasan jalan tol Cibebera sekarang. Orang setempat menyebutnya Kebon Jukut. Sampai tahun 90-an, nama Kebon Jukut masih eksis. Entah kenapa, sekarang berubah menjadi Kebun Rumput. Tapi tetap saja singkatannya mengandung diksi bahasa Sunda, Borum dari Kebon Rumput.
Kebon Jukut menjadi tujuan para tukang delman dan juragan kuda di Cimahi dan sekitarnya. Waktu kecil, usia SD, saya sering diajak naik gerobak dari Parapatan Cihanjuang ke ATA (Akademi Teknik Ahmad Yani), cikal bakal Unjani, untuk mengambil rumput. Maklum Aki Oma, saudara jauh, merupakan juragan kuda dan delman di Parapatan. Namanya tenar hingga ke Lembang. Gerobak kudanya pernah dipakai Roma Irama waktu syuting film Satria Bergitar.
Saat ini, sisa-sisa kejayaan Kebon Jukut nyaris tidak tersisa. Padang rumput itu sudah berubah menjadi Markas Brigif 15, menjadi perumahan, menjadi kampus Unjani, STKIP, Stikes, dan perkampungan masyarakat. Hanya ada sedikit lahan yang masih menyisakan rumput-rumput hijau di sebelah barat Unjani, dekat kampung Mekarsari. Setiap hari masih ada seorang pencari rumput yang menyabit rumput untuk dijual kepada pemilik kuda delman. Tukang rumput ini menyimpan rumput di tepi kali depan gerbang Unjani, untuk kemudian diambil oleh pemilik kuda setiap sore.
Dari lapang voli, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Kebun Rumput ke arah Brigif. Di sebelah kiri adalah jejeran rumah-rumah dinas militer yang sudah ada sejak jaman kolonial. Rumah-rumah ini dipakai para petinggi Garnizun Tjimahi. Pangkatnya minimal Mayor. Pangkat Mayor ketika itu adalah pemimpin Garnizun. Kabarnya salah seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah pula tinggal di salah satu rumah ini.
Di perempatan jalan, di sebelah kiri, ada bangunan yang sekarang dipakai TK Kartika. Ini juga salah satu bangunan heritage. Lalu kami berjalan kembali memasuki Jalan Ratulangi.
Di zaman kolonial, jalan ini bernama Williamstraat (Jalan William). William mengacu pada nama raja Belanda. Kompleks Ratulangi inilah yang menjadi bagian dari kamp interniran, Baros Kamp 6. Beberapa rumah di kompleks ini pernah dijadikan rumah sakit darurat, untuk merawat para interniran yang sakit.
Kondisi rumah-rumah di sini relatif masih utuh. Ada beberapa yang kosong tidak terawat. Ada pula rumah yang sudah direnovasi, menghilangkan bagian muka masa kolonial. Kebanyakan rumah di sini berbentuk kopel, satu atap untuk dua rumah.
Kami berhenti lebih dulu di Masjid Hizbul Wathon untuk beristirahat. Sambil duduk-duduk, peserta mendengarkan penjelasan dari Kang Iwan perihal Baros Kamp 6 ini. Kang Iwan membawa buku Mijn Kamp Niet Door Hitler, ini buku yang judulnya semacam plesetan dari buku Hitler, Main Kampf. Isinya bercerita tentang nasib interniran, salah satunya di Tjimahi. Buku lain yang menjadi panduan jelajah kali ini juga adalah Dalem Tawanan Djepang, karya Nio Joe lan. Nio merupakan interniran yang pernah merasakan pahitnya hidup di Kamp 4 (sekarang jadi Pusdikhub).
Di ujung Jalan Sam Ratulangi, sebelum ke jalan Baros, ada pertigaan yang membentuk letter U. Bentuk letter U ini sama dengan awal kami masuk ke Jalan Kebun Rumput. Jadi di masing-masing ujung bentuknya Letter U. Di sini ada rumah yang menghadap ke Jalan Baros, dulu Barosweg. Di belakangnya, ada rumah yang menghadap ke Jalan Sam Ratulangi.
Dari kompleks Ratulangi, kami menyeberangi Jalan Baros, masuk ke Baros Kompleks. Inilah pusat dari interniran Kamp Baros 6, yang diperuntukan bagi wanita dan anak-anak. Sayang, rumah-rumah di kompleks ini sudah banyak yang berubah. Hanya beberapa yang mempertahankan bentuk asli.
Dari beberapa sumber, diketahui, ada sekitar 16.000 orang interniran, terdiri atas orang Belanda, Jerman, dan juga Tionghoa, yang menghuni kamp-kamp buatan Jepang di Cimahi. Sebagian ada yang bisa bertahan, tapi sebagian tak mampu melanjutkan perjuangan hidupnya. Termasuk mereka yang meninggal adalah arsitek Thomas Karsten.
Dari Baros Kompleks, kami berjalan kembali ke Jalan Baros lalu mengarah ke utara, melewati Gereja Ignatius dan berakhir di Taman Kartini. Di tempat ini, kami berkumpul dan sharing tentang beberapa kisah yang terlewat saat jelajah tadi. Trail pun ditutup dengan doa dan rasa syukur tak terhingga bahwa kegiatan berjalan lancar sesuai rencana. Tak lupa, tentu kita berfoto bersama dulu sebelum bubar.
Sampai bertemu di Trail berikutnya. Salam Heritage! (kang mac)
Minggu pagi, 5 April 2015. Titik pertemuan sudah ditetapkan di Taman Urip samping RS Dustira, Jalan Urip Sumohardjo. Ini taman yang kembali ditata oleh Pemkot Cimahi. Di zaman kolonial, taman ini bernama Emma Park. Jalan Urip dulu bernama Emmalaan. Nama Emma, sama dengan nama Hotel Emma di daerah Sukimun (Schoolweg). Nama itu mengacu pada nama Ratu Emma, istri kedua Raja Willem III yang berkuasa pada 1817-1890. Kang Iwan sudah stand by sebelum pukul 08.00. Sejumlah peserta mulai berdatangan. Satu sama lain banyak yang belum kenal. Akhirnya berkumpullah sekitar 40 orang, bahkan lebih, di Taman Urip. Ada pegiat-pegiat Cimahi yang ikut serta, seperti seniman Kang Dede Syarif, Kang Budi Raharjo, Kang Heru Hermawan, dan Teh Primas. Lalu hadir pula Mas Suyanto Lumaksono dari gereja St Ignatius, kang Andrenaline Katarsis dan Kang Moh Sopian Ansori dari Balad Junghuhn. Rupanya kegiatan ini pun "dipantau" orang Bandung. Itu terlihat dari kehadiran Bu Endang Arie Soedarmojo, pegiat segala jelajah.
Yang lebih menyenangkan, ikut serta pula adik-adik dari SD Kihapit (Lihat foto di sini). Mereka yang duduk di bangku kelas 6 ini diajak oleh gurunya, Teh Erwanti. Alasannya, supaya tahu sejarah Cimahi.
Tentu banyak wajah-wajah baru yang kenal belakangan, seperti Pak Aryadi, Kang Agung, Mbak Yustinia, dan lain-lain. Ada juga senior-senior saya di SMA dulu, Kang Yarman dan istrinya, Teh Lisna.
Setelah perkenalan, kami kemudian berfoto-foto di Taman Urip dan di depan asrama dokter RS Dustira. Selanjutnya, kami pun berdoa untuk memulai jelajah. Rombongan berjalan ke arah selatan, menuju kawasan Brigif di Kebon Rumput. Di sepanjang jalan, saya dan Kang Iwan bergantian memandu dan bercerita tentang kisah-kisah dan sejarah di seputaran kawasan Dustira, Ubug, Brigif, hingga ke Baros.

Di lapang voli Adiraga, dekat Markas Koramil, kami berhenti. Saya menerangkan tentang sejarah kompleks Kebun Rumput dan Basis. Dulu, kompleks ini merupakan kompleks perumahan serdadu dan perwira Depot Mobiele Artillerie (DMA). DMA kini menjadi Pusdik Artileri. Selain rumah serdadu, Kompleks Basis merupakan kandang kuda.
Dulu kawasan ini disebut Graslanden, yang artinya padang rumput atau kebun rumput. Dipersiapkan sejak tahun 1910. Kawasan yang memang diperuntukan bagi keperluan kavaleri dan kuda-kuda penarik meriam artileri. Membentang luas dari belakang Pusdik Art hingga ke perbatasan jalan tol Cibebera sekarang. Orang setempat menyebutnya Kebon Jukut. Sampai tahun 90-an, nama Kebon Jukut masih eksis. Entah kenapa, sekarang berubah menjadi Kebun Rumput. Tapi tetap saja singkatannya mengandung diksi bahasa Sunda, Borum dari Kebon Rumput.
Kebon Jukut menjadi tujuan para tukang delman dan juragan kuda di Cimahi dan sekitarnya. Waktu kecil, usia SD, saya sering diajak naik gerobak dari Parapatan Cihanjuang ke ATA (Akademi Teknik Ahmad Yani), cikal bakal Unjani, untuk mengambil rumput. Maklum Aki Oma, saudara jauh, merupakan juragan kuda dan delman di Parapatan. Namanya tenar hingga ke Lembang. Gerobak kudanya pernah dipakai Roma Irama waktu syuting film Satria Bergitar.
Saat ini, sisa-sisa kejayaan Kebon Jukut nyaris tidak tersisa. Padang rumput itu sudah berubah menjadi Markas Brigif 15, menjadi perumahan, menjadi kampus Unjani, STKIP, Stikes, dan perkampungan masyarakat. Hanya ada sedikit lahan yang masih menyisakan rumput-rumput hijau di sebelah barat Unjani, dekat kampung Mekarsari. Setiap hari masih ada seorang pencari rumput yang menyabit rumput untuk dijual kepada pemilik kuda delman. Tukang rumput ini menyimpan rumput di tepi kali depan gerbang Unjani, untuk kemudian diambil oleh pemilik kuda setiap sore.
Dari lapang voli, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Kebun Rumput ke arah Brigif. Di sebelah kiri adalah jejeran rumah-rumah dinas militer yang sudah ada sejak jaman kolonial. Rumah-rumah ini dipakai para petinggi Garnizun Tjimahi. Pangkatnya minimal Mayor. Pangkat Mayor ketika itu adalah pemimpin Garnizun. Kabarnya salah seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah pula tinggal di salah satu rumah ini.
Di perempatan jalan, di sebelah kiri, ada bangunan yang sekarang dipakai TK Kartika. Ini juga salah satu bangunan heritage. Lalu kami berjalan kembali memasuki Jalan Ratulangi.
Di zaman kolonial, jalan ini bernama Williamstraat (Jalan William). William mengacu pada nama raja Belanda. Kompleks Ratulangi inilah yang menjadi bagian dari kamp interniran, Baros Kamp 6. Beberapa rumah di kompleks ini pernah dijadikan rumah sakit darurat, untuk merawat para interniran yang sakit.
Kondisi rumah-rumah di sini relatif masih utuh. Ada beberapa yang kosong tidak terawat. Ada pula rumah yang sudah direnovasi, menghilangkan bagian muka masa kolonial. Kebanyakan rumah di sini berbentuk kopel, satu atap untuk dua rumah. Kami berhenti lebih dulu di Masjid Hizbul Wathon untuk beristirahat. Sambil duduk-duduk, peserta mendengarkan penjelasan dari Kang Iwan perihal Baros Kamp 6 ini. Kang Iwan membawa buku Mijn Kamp Niet Door Hitler, ini buku yang judulnya semacam plesetan dari buku Hitler, Main Kampf. Isinya bercerita tentang nasib interniran, salah satunya di Tjimahi. Buku lain yang menjadi panduan jelajah kali ini juga adalah Dalem Tawanan Djepang, karya Nio Joe lan. Nio merupakan interniran yang pernah merasakan pahitnya hidup di Kamp 4 (sekarang jadi Pusdikhub).
Di ujung Jalan Sam Ratulangi, sebelum ke jalan Baros, ada pertigaan yang membentuk letter U. Bentuk letter U ini sama dengan awal kami masuk ke Jalan Kebun Rumput. Jadi di masing-masing ujung bentuknya Letter U. Di sini ada rumah yang menghadap ke Jalan Baros, dulu Barosweg. Di belakangnya, ada rumah yang menghadap ke Jalan Sam Ratulangi.
Dari kompleks Ratulangi, kami menyeberangi Jalan Baros, masuk ke Baros Kompleks. Inilah pusat dari interniran Kamp Baros 6, yang diperuntukan bagi wanita dan anak-anak. Sayang, rumah-rumah di kompleks ini sudah banyak yang berubah. Hanya beberapa yang mempertahankan bentuk asli.
Dari beberapa sumber, diketahui, ada sekitar 16.000 orang interniran, terdiri atas orang Belanda, Jerman, dan juga Tionghoa, yang menghuni kamp-kamp buatan Jepang di Cimahi. Sebagian ada yang bisa bertahan, tapi sebagian tak mampu melanjutkan perjuangan hidupnya. Termasuk mereka yang meninggal adalah arsitek Thomas Karsten.
Dari Baros Kompleks, kami berjalan kembali ke Jalan Baros lalu mengarah ke utara, melewati Gereja Ignatius dan berakhir di Taman Kartini. Di tempat ini, kami berkumpul dan sharing tentang beberapa kisah yang terlewat saat jelajah tadi. Trail pun ditutup dengan doa dan rasa syukur tak terhingga bahwa kegiatan berjalan lancar sesuai rencana. Tak lupa, tentu kita berfoto bersama dulu sebelum bubar.
Sampai bertemu di Trail berikutnya. Salam Heritage! (kang mac)
Subscribe to:
Posts (Atom)



















