Oleh Kang Mac
SELAIN gedung Societeit untuk perwira (sekarang gedung Historich) dan
Societeit untuk serdadu tentara berpangkat rendah (sekarang gedung
Siliwangi Kodim), ada beberapa rumah di kawasan Cantineweg (Jalan Gatot
Subroto Tagog), yang juga dijadikan tempat rekreasi bagi para tentara
yang dibuat khusus berdasar agama.
Ada Katholieke Militair Tehuis (KMT),
ini diperuntukan buat tentara beragama Katolik. KMT
kini menjadi Gereja Agustinus. Lalu ada pula Protestan Militair Tehuis
(PMT), buat tentara beragama Protestan.
Lokasinya di pinggir Gereja
Pasundan sekarang. Dan terakhir ada Neutraal Militair Tehuis (NMT), ini
rumah buat tentara di luar Katholik dan Protestan, baik itu Yahudi,
Atheis dll.
Nah berdasarkan peta Tjimahi tahun 1940, terlihat
bahwa NMT berada di dekat pertigaan Tagog. Lokasinya kini menjadi
swalayan dan sebuah rumah yang nyaris ambruk. Bahkan sekarang lokasi itu
sudah dikelilingi seng. Entah mau dibangun apa. Sekali lagi, kita
bakal kehilangan memori kota. (*)
Saturday, May 14, 2016
Thursday, May 12, 2016
Asal Usul Nama Citeureup (Toponimi Nama-nama Daerah di Cimahi -2)
Oleh Kang Mac
CITEUREUP. Merupakan nama salah satu kelurahan di Kecamatan Cimahi Utara. Tak hanya di Cimahi, di beberapa daerah lain di Jabar ada beberapa tempat yang diberi nama Citeureup, seperti Citeureup Kabupaten Bogor. Citeureup berasal dari dua kata, yaitu Ci dan Teureup. Ci asal kata dari Cai, yang berarti air. Teureup adalah jenis tumbuhan yang berkerabat dengan nangka dan campedak. Mungkin masih ada yang ingat dengan istilah Leugeut Aing Leugeut Teureup atau cerita Si Leugeut Teureup.
Dulu, kalau mau berburu burung, pasti pakai getah pohon Teureup ini. Dari beberapa sumber, tanaman Teureup memiliki nama Latin, Artocarpus elasticus. Di beberapa daerah lain di Indonesia, pohon Teureup disebut Benda atau Bendha. Masyarakat daerah lainnya menyebut nama yang beragam untuk Teureup ini. Misalnya kalam (Mentawai), torop (Karo), Bakil (Melayu), dan tarok (Minangkabau), kokap (Madura), taeng (Makassar), dan Torop (Batak).
Pohon Teureup bisa punya tinggi hingga 65 meter. Kulit pohon berwarna abu – abu gelap hingga kelabu kecokelatan. Bagian dalamnya kekuningan hingga cokelat pucat, teksturnya halus atau agak bersisik. Saat dilukai, kulit kayu mengeluarkan lateks tebal berwarna putih. Nah, yang khas dari Teureup adalah buahnya. Bentuknya bulat dan berduri, sekilas seperti rambutan. Tapi jangan coba memakannya, rasanya tak seperti rambutan Rapi'ah. Apakah masih ada pohon Teureup di daerah Citeureup Cimahi Utara? (*)
CITEUREUP. Merupakan nama salah satu kelurahan di Kecamatan Cimahi Utara. Tak hanya di Cimahi, di beberapa daerah lain di Jabar ada beberapa tempat yang diberi nama Citeureup, seperti Citeureup Kabupaten Bogor. Citeureup berasal dari dua kata, yaitu Ci dan Teureup. Ci asal kata dari Cai, yang berarti air. Teureup adalah jenis tumbuhan yang berkerabat dengan nangka dan campedak. Mungkin masih ada yang ingat dengan istilah Leugeut Aing Leugeut Teureup atau cerita Si Leugeut Teureup.
Dulu, kalau mau berburu burung, pasti pakai getah pohon Teureup ini. Dari beberapa sumber, tanaman Teureup memiliki nama Latin, Artocarpus elasticus. Di beberapa daerah lain di Indonesia, pohon Teureup disebut Benda atau Bendha. Masyarakat daerah lainnya menyebut nama yang beragam untuk Teureup ini. Misalnya kalam (Mentawai), torop (Karo), Bakil (Melayu), dan tarok (Minangkabau), kokap (Madura), taeng (Makassar), dan Torop (Batak).
Pohon Teureup bisa punya tinggi hingga 65 meter. Kulit pohon berwarna abu – abu gelap hingga kelabu kecokelatan. Bagian dalamnya kekuningan hingga cokelat pucat, teksturnya halus atau agak bersisik. Saat dilukai, kulit kayu mengeluarkan lateks tebal berwarna putih. Nah, yang khas dari Teureup adalah buahnya. Bentuknya bulat dan berduri, sekilas seperti rambutan. Tapi jangan coba memakannya, rasanya tak seperti rambutan Rapi'ah. Apakah masih ada pohon Teureup di daerah Citeureup Cimahi Utara? (*)
Sunday, February 21, 2016
Asal Usul Leuwigajah (Toponomi Nama-nama Daerah di Cimahi -1)
oleh Kang Mac
MENGAPA ada nama Leuwigajah di Cimahi? Apa dulu memang pernah hidup Gajah di Cimahi, terus mandi di Leuwi? Begitu pertanyaan beberapa kawan soal toponimi atau asal usul nama Leuwigajah.
Sebelum mengupas nama Leuwigajah, perlu diketahui sebelumnya, bahwa binatang Gajah sudah lama hidup di tanah Sunda. Gajah purba pernah hidup di Tatar Sunda sekitar 35 ribu tahun yang lalu. Fosilnya ditemukan di Rancamalang, Kabupaten Bandung. Juga ditemukan di Baribis Majalengka, Cibinong Bogor, Cikamurang, dan Tambakan Subang.
Lalu memasuki fase
sejarah, di zaman kerajaan Tarumanagara, abad ke 4 Masehi hingga 7
Masehi, binatang Gajah pun familiar dan dikenal masyarakat. Salah satu
buktinya adalah Prasasti Kebon Kopi peninggalan raja termasyhur
Tarumanagara, Maharaja Purnawarman, yang ditemukan di kebun kopi milik
Jonathan Rig di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor.
Selain tulisan beraksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, pada prasasti itu, terdapat lukisan tapak kaki gajah. Tulisan prasasti itu berbunyi "jayavis halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam" (Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa). Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra, dewa perang dan penguasa guntur.
Kekuatan binatang gajah ini juga menjadi inspirasi pemberian nama. Misalnya saja, Prabu Gajah Agung, raja Sumedanglarang, keturunan Prabu Tajimalela. Nama lahirnya adalah Atmabrata, namun saat jeneng jadi raja menggantikan kakaknya, Prabu Lembu Agung, ia memakai nama nobat Prabu Gajah Agung. Kini nama Prabu Gajah Agung diabadikan sebagai nama jalan di Sumedang kota.
Selain nama Gajah, untuk menyebut binatang besar itu, masyarakat pun mengenal nama Liman, berasal dari bahasa Sanskerta. Liman pun dipakai sebagai nama orang. Misalnya, Rajaputera Suraliman, adalah raja kedua Kerajaan Kendan di Nagreg. Lalu ada pula nama Liman Sanjaya. Dalam Babad Limbangan, disebutkan, Liman Sanjaya adalah putra dari Prabu Siliwangi hasil perkawinannya dengan Nyi Putri Limbangan, anak Sunan Rumenggong. Ia menjadi Prabu di Kerajaan Dayeuh Luhur atau Dayeuh Manggung.
Nama Liman dijadikan pula sebagai nama tempat, yaitu Palimanan. Malah di Cirebon pun, ada nama Pagajahan. Konon, diberi nama Pagajahan, karena banyak terdapat gajah-gajah pemberian dari negeri asing kepada Cirebon. Nama gajah juga dikenal dalam carita pantun Sunda. Seperti Gajah Lumantung. Gajah Lumantung adalah nama seorang raja di daerah yang disebut Pasir Batang Lembur Tengah.
Nah soal Leuwigajah, memang benar berasal dari cerita gajah yang mandi, lebih tepat, dimandikan di leuwi. Leuwi adalah kosakata bahasa Sunda. Dalam bahasa Indonesia, kira-kira sama artinya dengan Lubuk.
Berdasarkan Babad Batulayang, seperti yang dikutip dalam buku Sejarah Cimahi, dulu Dalem Batulayang, yaitu Dalem Abdul Rahman, ditugaskan membantu VOC di Palembang. Jabatan Dalem Batulayang lalu diserahkan kepada adiknya. Tahun 1770, Abdul Rahman kembali pulang ke Batulayang, sambil membawa oleh-oleh berupa seekor gajah besar.
Karena itu pula, Abdul Rahman dikenal sebagai Dalem Gajah. Selama gajah itu hidup, selalu dimandikan di sebuah Leuwi atau lubuk di daerah Cimahi Selatan. Akhirnya, tempat itu pun dikenal sebagai Leuwigajah. Sementara bukit di belakang Cibogo, dikenal sebagai Gunung Gajah Langu. Disebut demikian, karena gajah yang diangon sampai ke bukit itu sering terlihat ngalangu (melamun, bhs Sunda).
Dalem Batulayang tinggal di daerah Kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Kutawaringin. Karena gajah dari Palembang itu berkandang di sana, kampung itu pun dikenal pula sebagai Kampung Gajah. Lama-kelamaan, namanya bertambah menjadi Kampung Gajah Mekar dan Kampung Gajah Eretan.
Makam Dalem Abdul Rahman atau Dalem Gajah bisa ditemukan di Kampung Bojong Laja, Kutawaringin. Di Kampung Gajah Eretan, juga terdapat situs makam Embah Dalem Gajah. Bisa jadi ini petilasannya. Lalu, masih di Kutawaringin, juga ada makam Eyang Gajah Palembang. Sepertinya, ini adalah makam Gajah asal Palembang itu yang mati tua. (*)
Tulisan diambil dari blog keluargamac.blogspot.com. Klik link tulisan di sini.
MENGAPA ada nama Leuwigajah di Cimahi? Apa dulu memang pernah hidup Gajah di Cimahi, terus mandi di Leuwi? Begitu pertanyaan beberapa kawan soal toponimi atau asal usul nama Leuwigajah.
Sebelum mengupas nama Leuwigajah, perlu diketahui sebelumnya, bahwa binatang Gajah sudah lama hidup di tanah Sunda. Gajah purba pernah hidup di Tatar Sunda sekitar 35 ribu tahun yang lalu. Fosilnya ditemukan di Rancamalang, Kabupaten Bandung. Juga ditemukan di Baribis Majalengka, Cibinong Bogor, Cikamurang, dan Tambakan Subang.
Lalu memasuki fase
sejarah, di zaman kerajaan Tarumanagara, abad ke 4 Masehi hingga 7
Masehi, binatang Gajah pun familiar dan dikenal masyarakat. Salah satu
buktinya adalah Prasasti Kebon Kopi peninggalan raja termasyhur
Tarumanagara, Maharaja Purnawarman, yang ditemukan di kebun kopi milik
Jonathan Rig di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Selain tulisan beraksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, pada prasasti itu, terdapat lukisan tapak kaki gajah. Tulisan prasasti itu berbunyi "jayavis halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam" (Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa). Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra, dewa perang dan penguasa guntur.
Kekuatan binatang gajah ini juga menjadi inspirasi pemberian nama. Misalnya saja, Prabu Gajah Agung, raja Sumedanglarang, keturunan Prabu Tajimalela. Nama lahirnya adalah Atmabrata, namun saat jeneng jadi raja menggantikan kakaknya, Prabu Lembu Agung, ia memakai nama nobat Prabu Gajah Agung. Kini nama Prabu Gajah Agung diabadikan sebagai nama jalan di Sumedang kota.
Selain nama Gajah, untuk menyebut binatang besar itu, masyarakat pun mengenal nama Liman, berasal dari bahasa Sanskerta. Liman pun dipakai sebagai nama orang. Misalnya, Rajaputera Suraliman, adalah raja kedua Kerajaan Kendan di Nagreg. Lalu ada pula nama Liman Sanjaya. Dalam Babad Limbangan, disebutkan, Liman Sanjaya adalah putra dari Prabu Siliwangi hasil perkawinannya dengan Nyi Putri Limbangan, anak Sunan Rumenggong. Ia menjadi Prabu di Kerajaan Dayeuh Luhur atau Dayeuh Manggung.
Nama Liman dijadikan pula sebagai nama tempat, yaitu Palimanan. Malah di Cirebon pun, ada nama Pagajahan. Konon, diberi nama Pagajahan, karena banyak terdapat gajah-gajah pemberian dari negeri asing kepada Cirebon. Nama gajah juga dikenal dalam carita pantun Sunda. Seperti Gajah Lumantung. Gajah Lumantung adalah nama seorang raja di daerah yang disebut Pasir Batang Lembur Tengah.
Nah soal Leuwigajah, memang benar berasal dari cerita gajah yang mandi, lebih tepat, dimandikan di leuwi. Leuwi adalah kosakata bahasa Sunda. Dalam bahasa Indonesia, kira-kira sama artinya dengan Lubuk.
Berdasarkan Babad Batulayang, seperti yang dikutip dalam buku Sejarah Cimahi, dulu Dalem Batulayang, yaitu Dalem Abdul Rahman, ditugaskan membantu VOC di Palembang. Jabatan Dalem Batulayang lalu diserahkan kepada adiknya. Tahun 1770, Abdul Rahman kembali pulang ke Batulayang, sambil membawa oleh-oleh berupa seekor gajah besar.
Karena itu pula, Abdul Rahman dikenal sebagai Dalem Gajah. Selama gajah itu hidup, selalu dimandikan di sebuah Leuwi atau lubuk di daerah Cimahi Selatan. Akhirnya, tempat itu pun dikenal sebagai Leuwigajah. Sementara bukit di belakang Cibogo, dikenal sebagai Gunung Gajah Langu. Disebut demikian, karena gajah yang diangon sampai ke bukit itu sering terlihat ngalangu (melamun, bhs Sunda).
Dalem Batulayang tinggal di daerah Kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Kutawaringin. Karena gajah dari Palembang itu berkandang di sana, kampung itu pun dikenal pula sebagai Kampung Gajah. Lama-kelamaan, namanya bertambah menjadi Kampung Gajah Mekar dan Kampung Gajah Eretan.
Makam Dalem Abdul Rahman atau Dalem Gajah bisa ditemukan di Kampung Bojong Laja, Kutawaringin. Di Kampung Gajah Eretan, juga terdapat situs makam Embah Dalem Gajah. Bisa jadi ini petilasannya. Lalu, masih di Kutawaringin, juga ada makam Eyang Gajah Palembang. Sepertinya, ini adalah makam Gajah asal Palembang itu yang mati tua. (*)
Tulisan diambil dari blog keluargamac.blogspot.com. Klik link tulisan di sini.
Wednesday, February 3, 2016
Mencari Emmalaan F34
Awalnya saya mengira Emmalaan atau Jalan Emma adalah yang sekarang menjadi Jalan Sukimun. Mengapa demikian? Karena dulu, sekitar tahun 1890-an, di jalan itu berdiri dengan megah sebuah hotel bernama Hotel Emma.
Hotel itu kemudian direnovasi dan berganti nama menjadi Hotel Berglust. Administrateurnya atau pengelolanya adalah Tuan LGFJ Sterrenburg. Dia pula yang mengelola hotel Pension Tijhoff di Cantineweg, yang kini menjadi Toko Kue Sus Merdeka di Jalan Gatot Subroto Cimahi. Namun pencarian di Jalan Sukimun tak membuahkan hasil. Tak ada nomor rumah yang diawali huruf F.
Beruntung, pencarian makin mudah, ketika saya menemukan peta Tjimahi tahun 1940. Ini sebenarnya peta biasa yang sudah saya punya dan banyak pula bertebaran di internet. Namun, diteliti lebih jauh, ternyata peta yang ini lebih lengkap. Di peta itu dicantumkan nama sejumlah lokasi, termasuk nama jalan, secara jelas.
Di peta itu pula terbaca, walau agak sulit karena huruf-hurufnya kecil dan berdempetan, nama Emmalaan atau Jalan Emma yang berlokasi di Jalan Urip Sumohardjo sekarang. Kemarin sore, Minggu (15/11), saya menyempatkan mampir untuk mencari rumah F34 itu.
Motor saya jalankan perlahan-lahan, karena ingin melihat nomor rumah lebih jelas. Ternyata benar, rumah-rumah di sini berkode F. Dari sebelah utara, nomor rumah dimulai dari nomor 26. Agak deg-degan juga, khawatir tidak ada nomor 34. Sampai akhirnya tiba di pojokan sebelah selatan, ternyata itu dia rumah bernomor F34.
Rumah bercat putih itu masih menyisakan arsitektur zaman Belanda. Tapi bagian depannya sudah direnovasi dengan gaya arstitekur modern. Gerbang berwarna biru menutup rumah itu.
Saya hanya bisa memotret rumah itu dari luar. Karena hari sudah sore dan terburu-buru, saya tidak sempat bertanya-tanya soal siapa penghuni rumah itu sekarang.
Rumah itu berada di sebelah timur Militair Hospital atau RS Dustira, bagian dari sebuah kompleks perumahan kecil yang membentuk setengah lingkaran. Bagian tengah kompleks itu berupa taman, yang sekarang disebut Taman Urip. Sedikitnya ada 9 rumah di situ. zaman kolonial, rumah-rumah itu dihuni perwira menengah tentara Kerajaan Belanda.
Sekarang pun, penghuninya adalah para perwira menengah TNI AD. Jenderal Urip Sumohardjo, Kepala Staf TNI pertama, pernah tinggal di Cimahi sebelum Jepang masuk dan setelah Jepang menyerah. Apakah beliau pernah tinggal di kompleks ini? Perlu penelusuran lagi. (*)
Tulisan diambil dari blog keluargamac.blogspot.com dengan judul yang sama. Klik sumber asli.
Blogger: Jelajah Kamp Interniran Jepang Baros 6
DIANTARA para pegiat Tjimahi Heritage Trail, ada beberapa yang selalu menuliskan hasil jelajahnya. Salah satunya adalah Kang Andrenaline Katarsis. Berikut cuplikan tulisan Kang Andre di blognya, jelajahcimahi.blogspot.com dengan judul Jelajah Kamp Interniran Jepang - Baros 6.
Hari Minggu, 5 April 2015, untuk pertama kalinya saya mengikuti acara wisata sejarah bersama komunitas penggiat sejarah Kota Cimahi, Tjimahi Heritages Trail, menapaktilasi lokasi kamp interniran Jepang yang berada di Baros, Kota Cimahi. Setelah sekian kalinya saya bergabung dan berkomunikasi secara virtual, dengan melempar isu sejarah sekaligus menjadi pancingan saya untuk mengetahui sejarah Cimahi melalui grup Facebook Tjimahi Heritages, baru kesempatan inilah akhirnya saya bisa bertemu langsung alias kopi-darat dengan anggota grup. Momen ini menjadi awal yang penting, karena biasanya saya melakukan blusukan ke kota Cimahi sendirian, dengan segala aspek kekurangannya, maka pada kesempatan ini saya aprak-aprakan secara rombongan, tentu saja dengan segala kelebihannya.
Hari Minggu, 5 April 2015, untuk pertama kalinya saya mengikuti acara wisata sejarah bersama komunitas penggiat sejarah Kota Cimahi, Tjimahi Heritages Trail, menapaktilasi lokasi kamp interniran Jepang yang berada di Baros, Kota Cimahi. Setelah sekian kalinya saya bergabung dan berkomunikasi secara virtual, dengan melempar isu sejarah sekaligus menjadi pancingan saya untuk mengetahui sejarah Cimahi melalui grup Facebook Tjimahi Heritages, baru kesempatan inilah akhirnya saya bisa bertemu langsung alias kopi-darat dengan anggota grup. Momen ini menjadi awal yang penting, karena biasanya saya melakukan blusukan ke kota Cimahi sendirian, dengan segala aspek kekurangannya, maka pada kesempatan ini saya aprak-aprakan secara rombongan, tentu saja dengan segala kelebihannya.
Sesuai
jadwal acara dimulai jam 08.00 pagi, dengan terlebih dahulu berkumpul di Taman
URIP yang terletak di jalan Urip Sumoharjo, Cimahi. Setelah saya memarkir motor
di parkiran Rumah Sakit Dustira, saya hanya perlu waktu sekitar 10 menit
berjalan kaki menuju Taman Urip. Dari kejauhan saya melihat sudah ada yang
berkumpul disana. Saya kemudian mencoba sedikit mengingat-ingat paras
wajah-wajah yang biasanya hanya saya lihat di foto grup. Karena interaksi
komunikasi saya di grup itu bisa dibilang cukup rutin, jadi hanya ada beberapa
wajah dengan mudah bisa saya kenali. Ada Iwan Hermawan, kang Machmud Mubarok, kang Dede
Syarif HD, kang Yarman
Mourly dan Mochamad Sopian Anshori dan beberapa wajah yang sebenarnya familiar
tapi rasanya sulit untuk mengingat sepotong namanya. Acara ini ternyata diikuti
juga oleh beberapa siswa kelas VI SD Lingga
Budi. Tanpa
ada rasa kikuk dan kaku, saya langsung menyalami dan bertukar sapa dengan
mereka.
Tjimahi Heritage Trail: Jelajah Kamp Interniran Jepang Baros 6 Dalam Media
ALHAMDULILLAH, kegiatan Tjimahi Heritage Trail: Jelajah Kamp Interniran Jepang di Baros diliput oleh wartawan Pikiran Rakyat, Ririn Nf. Berikut hasil liputannya yang ditulis secara serial dalam lima tulisan mulai Senin 6 April 2015 sampai Jumat 10 April 2015.
Serial Ke 1
Serial ke 2:
Serial ke 3:
Serial ke 4:
Serial ke 5:
Serial Ke 1
Serial ke 2:
Serial ke 3:
Saturday, January 30, 2016
Tjimahi Heritage Trail 1: Jelajah Kamp Interniran Jepang Baros 6
INI jelajah, atau Trail dalam istilah TH, sekaligus menjadi kopi darat pertama Tjimahi Heritage. Setelah sekian lama, hanya kongkow di grup Facebook dan kegiatan CDB (Cimahi Dalam Bingkai) yang vakum. Saya dan Kang Iwan memilih tema Kamp Interniran Baros 6, karena paling mudah dijangkau. Rutenya tidak terlalu jauh. Perizinan tak ribet. Saya hanya menghubungi Ketua RW Baros Kompleks, karena akan melewati kompleks itu.
Minggu pagi, 5 April 2015. Titik pertemuan sudah ditetapkan di Taman Urip samping RS Dustira, Jalan Urip Sumohardjo. Ini taman yang kembali ditata oleh Pemkot Cimahi. Di zaman kolonial, taman ini bernama Emma Park. Jalan Urip dulu bernama Emmalaan. Nama Emma, sama dengan nama Hotel Emma di daerah Sukimun (Schoolweg). Nama itu mengacu pada nama Ratu Emma, istri kedua Raja Willem III yang berkuasa pada 1817-1890.
Kang Iwan sudah stand by sebelum pukul 08.00. Sejumlah peserta mulai berdatangan. Satu sama lain banyak yang belum kenal. Akhirnya berkumpullah sekitar 40 orang, bahkan lebih, di Taman Urip. Ada pegiat-pegiat Cimahi yang ikut serta, seperti seniman Kang Dede Syarif, Kang Budi Raharjo, Kang Heru Hermawan, dan Teh Primas. Lalu hadir pula Mas Suyanto Lumaksono dari gereja St Ignatius, kang Andrenaline Katarsis dan Kang Moh Sopian Ansori dari Balad Junghuhn. Rupanya kegiatan ini pun "dipantau" orang Bandung. Itu terlihat dari kehadiran Bu Endang Arie Soedarmojo, pegiat segala jelajah.
Yang lebih menyenangkan, ikut serta pula adik-adik dari SD Kihapit (Lihat foto di sini). Mereka yang duduk di bangku kelas 6 ini diajak oleh gurunya, Teh Erwanti. Alasannya, supaya tahu sejarah Cimahi.
Tentu banyak wajah-wajah baru yang kenal belakangan, seperti Pak Aryadi, Kang Agung, Mbak Yustinia, dan lain-lain. Ada juga senior-senior saya di SMA dulu, Kang Yarman dan istrinya, Teh Lisna.
Setelah perkenalan, kami kemudian berfoto-foto di Taman Urip dan di depan asrama dokter RS Dustira. Selanjutnya, kami pun berdoa untuk memulai jelajah. Rombongan berjalan ke arah selatan, menuju kawasan Brigif di Kebon Rumput. Di sepanjang jalan, saya dan Kang Iwan bergantian memandu dan bercerita tentang kisah-kisah dan sejarah di seputaran kawasan Dustira, Ubug, Brigif, hingga ke Baros.

Di lapang voli Adiraga, dekat Markas Koramil, kami berhenti. Saya menerangkan tentang sejarah kompleks Kebun Rumput dan Basis. Dulu, kompleks ini merupakan kompleks perumahan serdadu dan perwira Depot Mobiele Artillerie (DMA). DMA kini menjadi Pusdik Artileri. Selain rumah serdadu, Kompleks Basis merupakan kandang kuda.
Dulu kawasan ini disebut Graslanden, yang artinya padang rumput atau kebun rumput. Dipersiapkan sejak tahun 1910. Kawasan yang memang diperuntukan bagi keperluan kavaleri dan kuda-kuda penarik meriam artileri. Membentang luas dari belakang Pusdik Art hingga ke perbatasan jalan tol Cibebera sekarang. Orang setempat menyebutnya Kebon Jukut. Sampai tahun 90-an, nama Kebon Jukut masih eksis. Entah kenapa, sekarang berubah menjadi Kebun Rumput. Tapi tetap saja singkatannya mengandung diksi bahasa Sunda, Borum dari Kebon Rumput.
Kebon Jukut menjadi tujuan para tukang delman dan juragan kuda di Cimahi dan sekitarnya. Waktu kecil, usia SD, saya sering diajak naik gerobak dari Parapatan Cihanjuang ke ATA (Akademi Teknik Ahmad Yani), cikal bakal Unjani, untuk mengambil rumput. Maklum Aki Oma, saudara jauh, merupakan juragan kuda dan delman di Parapatan. Namanya tenar hingga ke Lembang. Gerobak kudanya pernah dipakai Roma Irama waktu syuting film Satria Bergitar.
Saat ini, sisa-sisa kejayaan Kebon Jukut nyaris tidak tersisa. Padang rumput itu sudah berubah menjadi Markas Brigif 15, menjadi perumahan, menjadi kampus Unjani, STKIP, Stikes, dan perkampungan masyarakat. Hanya ada sedikit lahan yang masih menyisakan rumput-rumput hijau di sebelah barat Unjani, dekat kampung Mekarsari. Setiap hari masih ada seorang pencari rumput yang menyabit rumput untuk dijual kepada pemilik kuda delman. Tukang rumput ini menyimpan rumput di tepi kali depan gerbang Unjani, untuk kemudian diambil oleh pemilik kuda setiap sore.
Dari lapang voli, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Kebun Rumput ke arah Brigif. Di sebelah kiri adalah jejeran rumah-rumah dinas militer yang sudah ada sejak jaman kolonial. Rumah-rumah ini dipakai para petinggi Garnizun Tjimahi. Pangkatnya minimal Mayor. Pangkat Mayor ketika itu adalah pemimpin Garnizun. Kabarnya salah seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah pula tinggal di salah satu rumah ini.
Di perempatan jalan, di sebelah kiri, ada bangunan yang sekarang dipakai TK Kartika. Ini juga salah satu bangunan heritage. Lalu kami berjalan kembali memasuki Jalan Ratulangi.
Di zaman kolonial, jalan ini bernama Williamstraat (Jalan William). William mengacu pada nama raja Belanda. Kompleks Ratulangi inilah yang menjadi bagian dari kamp interniran, Baros Kamp 6. Beberapa rumah di kompleks ini pernah dijadikan rumah sakit darurat, untuk merawat para interniran yang sakit.
Kondisi rumah-rumah di sini relatif masih utuh. Ada beberapa yang kosong tidak terawat. Ada pula rumah yang sudah direnovasi, menghilangkan bagian muka masa kolonial. Kebanyakan rumah di sini berbentuk kopel, satu atap untuk dua rumah.
Kami berhenti lebih dulu di Masjid Hizbul Wathon untuk beristirahat. Sambil duduk-duduk, peserta mendengarkan penjelasan dari Kang Iwan perihal Baros Kamp 6 ini. Kang Iwan membawa buku Mijn Kamp Niet Door Hitler, ini buku yang judulnya semacam plesetan dari buku Hitler, Main Kampf. Isinya bercerita tentang nasib interniran, salah satunya di Tjimahi. Buku lain yang menjadi panduan jelajah kali ini juga adalah Dalem Tawanan Djepang, karya Nio Joe lan. Nio merupakan interniran yang pernah merasakan pahitnya hidup di Kamp 4 (sekarang jadi Pusdikhub).
Di ujung Jalan Sam Ratulangi, sebelum ke jalan Baros, ada pertigaan yang membentuk letter U. Bentuk letter U ini sama dengan awal kami masuk ke Jalan Kebun Rumput. Jadi di masing-masing ujung bentuknya Letter U. Di sini ada rumah yang menghadap ke Jalan Baros, dulu Barosweg. Di belakangnya, ada rumah yang menghadap ke Jalan Sam Ratulangi.
Dari kompleks Ratulangi, kami menyeberangi Jalan Baros, masuk ke Baros Kompleks. Inilah pusat dari interniran Kamp Baros 6, yang diperuntukan bagi wanita dan anak-anak. Sayang, rumah-rumah di kompleks ini sudah banyak yang berubah. Hanya beberapa yang mempertahankan bentuk asli.
Dari beberapa sumber, diketahui, ada sekitar 16.000 orang interniran, terdiri atas orang Belanda, Jerman, dan juga Tionghoa, yang menghuni kamp-kamp buatan Jepang di Cimahi. Sebagian ada yang bisa bertahan, tapi sebagian tak mampu melanjutkan perjuangan hidupnya. Termasuk mereka yang meninggal adalah arsitek Thomas Karsten.
Dari Baros Kompleks, kami berjalan kembali ke Jalan Baros lalu mengarah ke utara, melewati Gereja Ignatius dan berakhir di Taman Kartini. Di tempat ini, kami berkumpul dan sharing tentang beberapa kisah yang terlewat saat jelajah tadi. Trail pun ditutup dengan doa dan rasa syukur tak terhingga bahwa kegiatan berjalan lancar sesuai rencana. Tak lupa, tentu kita berfoto bersama dulu sebelum bubar.
Sampai bertemu di Trail berikutnya. Salam Heritage! (kang mac)
Minggu pagi, 5 April 2015. Titik pertemuan sudah ditetapkan di Taman Urip samping RS Dustira, Jalan Urip Sumohardjo. Ini taman yang kembali ditata oleh Pemkot Cimahi. Di zaman kolonial, taman ini bernama Emma Park. Jalan Urip dulu bernama Emmalaan. Nama Emma, sama dengan nama Hotel Emma di daerah Sukimun (Schoolweg). Nama itu mengacu pada nama Ratu Emma, istri kedua Raja Willem III yang berkuasa pada 1817-1890. Kang Iwan sudah stand by sebelum pukul 08.00. Sejumlah peserta mulai berdatangan. Satu sama lain banyak yang belum kenal. Akhirnya berkumpullah sekitar 40 orang, bahkan lebih, di Taman Urip. Ada pegiat-pegiat Cimahi yang ikut serta, seperti seniman Kang Dede Syarif, Kang Budi Raharjo, Kang Heru Hermawan, dan Teh Primas. Lalu hadir pula Mas Suyanto Lumaksono dari gereja St Ignatius, kang Andrenaline Katarsis dan Kang Moh Sopian Ansori dari Balad Junghuhn. Rupanya kegiatan ini pun "dipantau" orang Bandung. Itu terlihat dari kehadiran Bu Endang Arie Soedarmojo, pegiat segala jelajah.
Yang lebih menyenangkan, ikut serta pula adik-adik dari SD Kihapit (Lihat foto di sini). Mereka yang duduk di bangku kelas 6 ini diajak oleh gurunya, Teh Erwanti. Alasannya, supaya tahu sejarah Cimahi.
Tentu banyak wajah-wajah baru yang kenal belakangan, seperti Pak Aryadi, Kang Agung, Mbak Yustinia, dan lain-lain. Ada juga senior-senior saya di SMA dulu, Kang Yarman dan istrinya, Teh Lisna.
Setelah perkenalan, kami kemudian berfoto-foto di Taman Urip dan di depan asrama dokter RS Dustira. Selanjutnya, kami pun berdoa untuk memulai jelajah. Rombongan berjalan ke arah selatan, menuju kawasan Brigif di Kebon Rumput. Di sepanjang jalan, saya dan Kang Iwan bergantian memandu dan bercerita tentang kisah-kisah dan sejarah di seputaran kawasan Dustira, Ubug, Brigif, hingga ke Baros.

Di lapang voli Adiraga, dekat Markas Koramil, kami berhenti. Saya menerangkan tentang sejarah kompleks Kebun Rumput dan Basis. Dulu, kompleks ini merupakan kompleks perumahan serdadu dan perwira Depot Mobiele Artillerie (DMA). DMA kini menjadi Pusdik Artileri. Selain rumah serdadu, Kompleks Basis merupakan kandang kuda.
Dulu kawasan ini disebut Graslanden, yang artinya padang rumput atau kebun rumput. Dipersiapkan sejak tahun 1910. Kawasan yang memang diperuntukan bagi keperluan kavaleri dan kuda-kuda penarik meriam artileri. Membentang luas dari belakang Pusdik Art hingga ke perbatasan jalan tol Cibebera sekarang. Orang setempat menyebutnya Kebon Jukut. Sampai tahun 90-an, nama Kebon Jukut masih eksis. Entah kenapa, sekarang berubah menjadi Kebun Rumput. Tapi tetap saja singkatannya mengandung diksi bahasa Sunda, Borum dari Kebon Rumput.
Kebon Jukut menjadi tujuan para tukang delman dan juragan kuda di Cimahi dan sekitarnya. Waktu kecil, usia SD, saya sering diajak naik gerobak dari Parapatan Cihanjuang ke ATA (Akademi Teknik Ahmad Yani), cikal bakal Unjani, untuk mengambil rumput. Maklum Aki Oma, saudara jauh, merupakan juragan kuda dan delman di Parapatan. Namanya tenar hingga ke Lembang. Gerobak kudanya pernah dipakai Roma Irama waktu syuting film Satria Bergitar.
Saat ini, sisa-sisa kejayaan Kebon Jukut nyaris tidak tersisa. Padang rumput itu sudah berubah menjadi Markas Brigif 15, menjadi perumahan, menjadi kampus Unjani, STKIP, Stikes, dan perkampungan masyarakat. Hanya ada sedikit lahan yang masih menyisakan rumput-rumput hijau di sebelah barat Unjani, dekat kampung Mekarsari. Setiap hari masih ada seorang pencari rumput yang menyabit rumput untuk dijual kepada pemilik kuda delman. Tukang rumput ini menyimpan rumput di tepi kali depan gerbang Unjani, untuk kemudian diambil oleh pemilik kuda setiap sore.
Dari lapang voli, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Kebun Rumput ke arah Brigif. Di sebelah kiri adalah jejeran rumah-rumah dinas militer yang sudah ada sejak jaman kolonial. Rumah-rumah ini dipakai para petinggi Garnizun Tjimahi. Pangkatnya minimal Mayor. Pangkat Mayor ketika itu adalah pemimpin Garnizun. Kabarnya salah seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah pula tinggal di salah satu rumah ini.
Di perempatan jalan, di sebelah kiri, ada bangunan yang sekarang dipakai TK Kartika. Ini juga salah satu bangunan heritage. Lalu kami berjalan kembali memasuki Jalan Ratulangi.
Di zaman kolonial, jalan ini bernama Williamstraat (Jalan William). William mengacu pada nama raja Belanda. Kompleks Ratulangi inilah yang menjadi bagian dari kamp interniran, Baros Kamp 6. Beberapa rumah di kompleks ini pernah dijadikan rumah sakit darurat, untuk merawat para interniran yang sakit.
Kondisi rumah-rumah di sini relatif masih utuh. Ada beberapa yang kosong tidak terawat. Ada pula rumah yang sudah direnovasi, menghilangkan bagian muka masa kolonial. Kebanyakan rumah di sini berbentuk kopel, satu atap untuk dua rumah. Kami berhenti lebih dulu di Masjid Hizbul Wathon untuk beristirahat. Sambil duduk-duduk, peserta mendengarkan penjelasan dari Kang Iwan perihal Baros Kamp 6 ini. Kang Iwan membawa buku Mijn Kamp Niet Door Hitler, ini buku yang judulnya semacam plesetan dari buku Hitler, Main Kampf. Isinya bercerita tentang nasib interniran, salah satunya di Tjimahi. Buku lain yang menjadi panduan jelajah kali ini juga adalah Dalem Tawanan Djepang, karya Nio Joe lan. Nio merupakan interniran yang pernah merasakan pahitnya hidup di Kamp 4 (sekarang jadi Pusdikhub).
Di ujung Jalan Sam Ratulangi, sebelum ke jalan Baros, ada pertigaan yang membentuk letter U. Bentuk letter U ini sama dengan awal kami masuk ke Jalan Kebun Rumput. Jadi di masing-masing ujung bentuknya Letter U. Di sini ada rumah yang menghadap ke Jalan Baros, dulu Barosweg. Di belakangnya, ada rumah yang menghadap ke Jalan Sam Ratulangi.
Dari kompleks Ratulangi, kami menyeberangi Jalan Baros, masuk ke Baros Kompleks. Inilah pusat dari interniran Kamp Baros 6, yang diperuntukan bagi wanita dan anak-anak. Sayang, rumah-rumah di kompleks ini sudah banyak yang berubah. Hanya beberapa yang mempertahankan bentuk asli.
Dari beberapa sumber, diketahui, ada sekitar 16.000 orang interniran, terdiri atas orang Belanda, Jerman, dan juga Tionghoa, yang menghuni kamp-kamp buatan Jepang di Cimahi. Sebagian ada yang bisa bertahan, tapi sebagian tak mampu melanjutkan perjuangan hidupnya. Termasuk mereka yang meninggal adalah arsitek Thomas Karsten.
Dari Baros Kompleks, kami berjalan kembali ke Jalan Baros lalu mengarah ke utara, melewati Gereja Ignatius dan berakhir di Taman Kartini. Di tempat ini, kami berkumpul dan sharing tentang beberapa kisah yang terlewat saat jelajah tadi. Trail pun ditutup dengan doa dan rasa syukur tak terhingga bahwa kegiatan berjalan lancar sesuai rencana. Tak lupa, tentu kita berfoto bersama dulu sebelum bubar.
Sampai bertemu di Trail berikutnya. Salam Heritage! (kang mac)
Subscribe to:
Posts (Atom)













