Oleh Kang Iwan Hermawan
BALONG PE demikian orang-orang menyebutnya. Berlokasi di komplek brigif 15 Kujang di daerah Baros Cimahi.
Entah penulisannya PE atau VE entahlah, sy liat di suatu majalah lawas
Netherlands indische Leven terbitan 1930 kolam ini sudah ada dengan
sebutan Visvijver yg artinya kolam ikan.
Di foto lama itu terlihat
latar belakang kolam yaitu gunung padakasih dan gunung Aseupan yg
keduanya sekarang mulai berubah bentuk.
Balong PE di kompleks Brigif 15. Foto: Iwan Hermawan
Kembali ke kolam, daerah itu
dahulu merupakan padang rumput luas, rumput tersebut diperuntukan kuda-kuda penarik meriam. Penamaan PE masih misteri, mungkinkah penamaan itu ada
hubungannya dengan kompleks Pusdikarmed yang dahulu mempunyai meriam
artileri medan yang jika di bahasa Belandakan Veldartillerie karena lidah
warga pribumi menjadi PE? Atau dari arti makanan kuda (rumput) yg disebut
Paarden atau dari istilah istilah lain....entahlah....
Namun informasi tambahan yang disampaikan kang Eri Gunawan bisa jadi rujukan penyebutan nama Balong PE. Dulu kolam itu disebut balong gede atau Balong PE. Karena balong itu dijaga oleh petugas berpakaian hijau seperti halnya hansip. Di dada kanan seragam petugas itu terdapat tulisan PE yang artinya Polisi Empang. Kang Eri yang lahir dan besar di Kompleks Ratulangi, tak jauh dari Balong PE, masih ingat komandan Polisi Empang itu bernama Pak Dekom.
Kang Eri pun mengenang Balong PE sebagai tempatnya bermain saat kecil. Ia pernah merasakan berenang memakai gedebog pisang. Di samping balong PE, ada rel lori untuk membawa rumput dari Grasland atau Kebon Jukut ke Pusdik Armed. Tempat berhenti lori di persimpangan depan mesjid. Saat ini sudah tidak ada lagi berganti jadi pos provost Brigif 15 dan koperasi Brigif 15. (*)
Thursday, February 16, 2017
Saturday, February 11, 2017
Gedong Dalapan Weg
Oleh Kang Mac
NAMA Gedong Dalapan Weg atau Jalan Gedong Dalapan mungkin banyak yang lupa atau tidak tahu. Berbeda dengan Gedong Ampat weg, masih mengabadi dengan nama Jalan Gedung Empat. Tapi setidaknya tahun 80-an, orang masih mengenal nama Jalan Gedong Dalapan. Kini nama Jalan Sriwijaya Raya atau banyak pula yang menyebut Sriwijaya Atas menggantikan nama Gedong Dalapan.
Sebenarnya dari mana datangnya nama Gedong Dalapan. Karena kalau ditelusuri dan dihitung cermat, di sepanjang jalan Sriwijaya Raya itu rumah-rumah perwira di sana sangat banyak lebih dari delapan.
Peta Tjimahi tahun 1904 mengungkap asal usul nama Jalan Gedong Dalapan. Di dalam peta, jajaran rumah di sepanjang jalan yang membentang dari utara ke selatan itu terbagi dalam 3 blok. Blok pertama terdiri dari 8 rumah. Lalu diselingi jalan masuk via gerbang belakang ke Pusdikbekang (dulu Batalyon Genie Kamp). Disambung dengan jejeran 9 rumah di blok kedua dan diselingi jalan masuk via gerbang belakang ke Pusdikhub (dulu Batalyon 4e Kamp). Blok ketiga terdiri atas 10 rumah yang sekarang bersambung dengan Pura Wira Loka Natha.
Jadi jejeran rumah di sepanjang Jalan Sriwijaya Raya itu terdiri dari 8 rumah (blok 1), 9 rumah (blok 2), dan 10 rumah (blok 3). Delapan rumah di blok 1 inilah yang pertama kali dibangun dan menjadi asal usul penyebutan nama jalan.
Nomor rumah di blok 1 ini dimulai dengan nomor E7, disambung E8, D1, D2, D3, D4, D5, dan D6. Rumah-rumah ini diperuntukan bagi para perwira KNIL dan estafet untuk perwira TNI. Rumah nomor E7 sempat dijadikan markas Subdenpom sebelum menempati markas di pertigaan Jalan Gedung Empat, bekas bangunan Frobel School (TK).
Sayangnya, di blok pertama ini banyak rumah yang sudah tidak utuh lagi, karena disekat-sekat. Satu rumah dibagi dua, bahkan tiga, walau dalam satu atap. Sering kejadian, satu dinding tembok rumah bisa dua warna cat berbeda. Penyekatan pun tidak proporsional. Satu bagian lebih besar dibanding bagian yang lain. Mungkin itu tergantung pangkat penghuninya. (*)
NAMA Gedong Dalapan Weg atau Jalan Gedong Dalapan mungkin banyak yang lupa atau tidak tahu. Berbeda dengan Gedong Ampat weg, masih mengabadi dengan nama Jalan Gedung Empat. Tapi setidaknya tahun 80-an, orang masih mengenal nama Jalan Gedong Dalapan. Kini nama Jalan Sriwijaya Raya atau banyak pula yang menyebut Sriwijaya Atas menggantikan nama Gedong Dalapan.
Sebenarnya dari mana datangnya nama Gedong Dalapan. Karena kalau ditelusuri dan dihitung cermat, di sepanjang jalan Sriwijaya Raya itu rumah-rumah perwira di sana sangat banyak lebih dari delapan.
Peta Tjimahi tahun 1904 mengungkap asal usul nama Jalan Gedong Dalapan. Di dalam peta, jajaran rumah di sepanjang jalan yang membentang dari utara ke selatan itu terbagi dalam 3 blok. Blok pertama terdiri dari 8 rumah. Lalu diselingi jalan masuk via gerbang belakang ke Pusdikbekang (dulu Batalyon Genie Kamp). Disambung dengan jejeran 9 rumah di blok kedua dan diselingi jalan masuk via gerbang belakang ke Pusdikhub (dulu Batalyon 4e Kamp). Blok ketiga terdiri atas 10 rumah yang sekarang bersambung dengan Pura Wira Loka Natha.
Jadi jejeran rumah di sepanjang Jalan Sriwijaya Raya itu terdiri dari 8 rumah (blok 1), 9 rumah (blok 2), dan 10 rumah (blok 3). Delapan rumah di blok 1 inilah yang pertama kali dibangun dan menjadi asal usul penyebutan nama jalan.
Nomor rumah di blok 1 ini dimulai dengan nomor E7, disambung E8, D1, D2, D3, D4, D5, dan D6. Rumah-rumah ini diperuntukan bagi para perwira KNIL dan estafet untuk perwira TNI. Rumah nomor E7 sempat dijadikan markas Subdenpom sebelum menempati markas di pertigaan Jalan Gedung Empat, bekas bangunan Frobel School (TK).
Sayangnya, di blok pertama ini banyak rumah yang sudah tidak utuh lagi, karena disekat-sekat. Satu rumah dibagi dua, bahkan tiga, walau dalam satu atap. Sering kejadian, satu dinding tembok rumah bisa dua warna cat berbeda. Penyekatan pun tidak proporsional. Satu bagian lebih besar dibanding bagian yang lain. Mungkin itu tergantung pangkat penghuninya. (*)
Monday, February 6, 2017
Ngampar Samak: Siapa Nama Udeg-udeg Kita?
Oleh Kang Mac
Siapa yang tahu nama Uded-udeg masing-masing? Atau nama Janggawareng?. Pertanyaan itu meluncur di sela-sela perbincangan santai Ngampar Samak yang digelar Tjimahi Heritage di Pendopo DPRD Kota Cimahi, Minggu 15 Februari 2017. Semua yang ditanya tersenyum simpul, ada pula yang kecut. Ya karena mereka tidak memiliki jawabannya, termasuk saya.
Udeg-udeg merupakan satu istilah pancakaki dalam budaya Sunda untuk menunjukkan leluhur tingkat keenam. Dalam pancakaki atau sistem hubungan kekerabatan Sunda, orang tua kita atau bapa dan indung menempati peringkat pertama. Lalu ke atas ada Aki dan Nini, yaitu orang tua Bapa/Indung. Berlanjut ke Uyut, yaitu orang tuanya Aki Nini. Lalu loncat ke Bao atau Canggah, orang tua Uyut. Selanjutnya adalah Janggawareng, yaitu orang tuanya Bao. Tingkat berikutnya adalah Udeg-udeg, yaitu orang tuanya Janggawareng. Tingkat ketujuh adalah Kakait Siwur/Kaitsiwur atau Gantung Siwur. Seterusnya ke atas disebut Karuhun.
Paling banter, orang biasa semodel saya yang bukan menak dan ningrat hanya tahu leluhurnya sampai tingkat uyut saja. Itu yang paling umum. Untuk menyebut Janggawareng atau Udeg-udeg, sudah sulit luar biasa. Mengapa demikian? Karena pewarisan pengetahuan tentang leluhur kita tidak disertai dengan catatan-catatan, arsip dan dokumentasi yang baik. Akibatnya, kita kesulitan untuk melacak jejak leluhur kita. Selama ini kita hanya mengandalkan cerita lisan, dongeng turun temurun dari para orang tua kita bahwa leluhur kita adalah si anu, si B dan si C.
Kalaupun kita mengetahui nama dari leluhur kita, itu pun tidak dibareng dengan kisah atau setidaknya tempat tanggal lahir, tempat tanggal meninggal. Berbeda dengan keluarga menak. Mereka memiliki genealogi yang lengkap sebagai justifikasi bahwa mereka benar keturunan menak. Kebanyakan di Sunda, keluarga menak menghubungkan dirinya dengan patron di atas seperti Bupati dan tentu trah Siliwangi dan Pajajaran atau Sunan Gunung Djati dengan keraton Cirebonnya.
Begitu pula dengan orang Belanda, mereka dikenal sangat disiplin dalam menuliskan silsilah keluarga. Genealogi mereka tersambung dari satu generasi ke generasi lainnya hingga merentang waktu berabad-abad.Tak heran kang Hans Haijer, keturunan Indo Belanda mampu menelusuri silsilah keluarga hingga rentang waktu tahun 1500-an.
Acara Ngampar Samak merupakan kegiatan Tjimahi Heritage di dalam ruangan. Biasanya kami menggelar jelajah setiap bulannya. Sebagai selingan dan refreshing, kami gelar Ngampar Samak untuk ajak diskusi anggota. Minggu kemarin menjadi kesempatan bagi teman-teman Tjimahi Heritage untuk mendengarkan riwayat keluarga kang Hans. Dimulai dari perjalanan leluhur van Meijden atau van Meiden asal Utrecht atau Groeningen yang kemudian berlayar ke Maluku. Di sana keluarga Meiden ini bercampur baur dan menikah dengan warga setempat. Salah satunya dengan keluarga Kapiten Cina di Ambon, yang menurunkan keluarga Nio.
Dari Ambon keluarga van Meiden ini menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Cimahi dan Bandung. Salah satunya adalah ayah dari kakek buyutnya kang Hans, yaitu Andries van der Meiden/Rijken. Dia adalah seorang pegulat dan tentara KNIL.Andries lahir di kota Culemborg Provinsi Gelderland pada 23-04-1889 dan meninggal di Bandung 02-12-1940, dimakamkan di TPU Pandu.
Menurut kang Hans, berdasar cerita keluarga yang di Belanda, Andries van der Meiden pernah menjuarai pertandingan gulat tingkat Provinsi di Gelderland sekitar tahun 1909-1910. Dan sewaktu tinggal di sini, beliau masih menekuni hobinya.
Waktu itu di Bandung ada hiburan rakyat dan ada yang memamerkan banteng dengan ukuran yang sangat besar dan agresif ,terus yang punya membuat sayembara siapa yang berani melawan banteng nya sampai mati akan di berikan hadiah yang sangat besar,Andries pun menawarkan diri untuk melawan banteng itu.
Besok nya Andries meminta izin kepada pemerintah kolonial untuk diizinkan melawan banteng itu, tetapi pemerintah kolonial tidak mengizinkan. "Itulah salah satu cerita tentang Andries menurut kakek saya dan keluarga di Belanda," begitu tutur kang Hans.
Foto Johanna van der Meiden bersama temannya didampingi sang ayah, Andries van der Meiden.
Sumber: Koleksi keluarga Hans Haijer
Namun yang paling menarik dari riwayat Andries van der Meiden ini adalah kisah cintanya yang sangat romantis, tak kalah dengan Romeo en Juliet. Andries bertemu dengan seorang gadis asal Majalengka, Enneh. Mereka kemudian menikah dan tinggal di Cibangkong Bandung. Sempat pula tinggal di daerah Leuwimuncang dan Kolmas Cimahi. Dari pernikahan itu, lahirlah Johanna van der Meiden, nenek buyut kang Hans.
Menurut Hans, saat melahirkan, ibu Enneh kesakitan luar biasa, karena bayi Johanna berbadan besar. Ketika ibu Enneh meninggal pada tahun 1937, Andries sangat terpukul. Ia pun depresi, mengurung diri di dalam rumah. Ia sering mengunjungi makam ibu Enneh di pemakaman Leuwigajah.
Suatu hari di puncak stres depresi dan rasa frustrasinya, Andries menyuruh pembantu untuk membelikan braso, cairan pembersih sepatu. Secara diam-diam, di dalam kamarnya, Andries mengakhiri hidup dengan cara meneguk cairan braso. Ia meninggalkan surat wasiat yang dikirim ke Belanda dan mengakui soal bunuh diri itu.
Ibu Enneh Anamah (tengah) bersama Andries
van der Meiden dan anaknya, Johanna
Sumber foto: Koleksi keluarga Hans Haijer
Dari penuturan kang Hans, terungkap bagaimana rapinya sistem dokumentasi dan arsip di Belanda. Hal yang jarang kita temui di Indonesia. Ketika kang Hans mengontak keluarga di Belanda yang satu keturunan dengan dirinya, mereka tidak langsung percaya. Tapi setelah kang Hans menunjukkan bukti-bukti berupa alur genealogi dan beberapa foto, mereka langsung welcome. Bahkan sejumlah foto keluarga pun mereka kirim untuk disimpan Hans.
Ini pelajaran penting untuk mencari silsilah keluarga. Tips dari Hans, kunjungi makam leluhur kita. Dari batu nisan, kita bisa mendapat informasi siapa bapak dari siapa, misal Aa bin Cece. Juga kalau beruntung, mendapat info kapan lahir dan kapan meninggal. Telusuri lagi makam Cece, supaya tahu siapa bapaknya dan dimana lahirnya. Dari penelusuran itu setidaknya bisa mengetahui leluhur kita sampai 4 tingkat ke atas.
Keluarga Tjibolang
Kang Koko Kuryana pun bercerita soal keluarga Tjibolang. Tjibolang adalah sebuah nama daerah di Cimahi yang kini lebih dikenal sebagai Jalan Lurah atau Karangmekar. Salah satu leluhur Kang Koko adalah Buya Hanafi yang menjabat sebagai Lurah Cipageran pada tahun 1920-an. Kang Koko pun membawa serta foto-foto jadul keluarga Tjibolang. Luar biasanya, foto-foto itu masih awet. Padahal umur foto itu nyaris 100 tahun.
Dari silsilah keturunan keluarga Tjibolang ini lahir sosok Pak Soedarja yang pada tahun 70-an menjadi Wali Kota Jakarta Barat. Rumahnya merupakan rumah kolonial di Jalan Gatot Subroto samping SMP 6. Dulu setiap lewat Jalan Gatot Subroto, selalu melihat ke rumah tersebut yang punya ciri khas tanaman pisang kipas yang tumbuh subur di halaman. Sayang, sekarang rumah itu sudah rata dengan tanah, mungkin sudah dijual.
Sementara Bu Cintasari Herly membawa dokumen silsilah berupa diktat. Diktat itu begitu rinci menjelaskan siapa keturunan siapa. Dari pihak ibu dan ayah. Pak Herly adalah salah satu keturunan keluarga yang rupanya berasal dari Pekalongan. Dan asal usul lebih jauhnya, mereka keturunan Sunan Gunung Jati dari pihak istri asal Cina.
Lagi-lagi ini pelajaran penting bagi kita, untuk senantiasa mendokumentasikan dan mengarsipkan apapun terkait keluarga. Tujuan agar lebih memudahkan membuat silsilah dan tentu agar tidak kehilangan jejak keluarga kita sendiri. (*)
Siapa yang tahu nama Uded-udeg masing-masing? Atau nama Janggawareng?. Pertanyaan itu meluncur di sela-sela perbincangan santai Ngampar Samak yang digelar Tjimahi Heritage di Pendopo DPRD Kota Cimahi, Minggu 15 Februari 2017. Semua yang ditanya tersenyum simpul, ada pula yang kecut. Ya karena mereka tidak memiliki jawabannya, termasuk saya.
Udeg-udeg merupakan satu istilah pancakaki dalam budaya Sunda untuk menunjukkan leluhur tingkat keenam. Dalam pancakaki atau sistem hubungan kekerabatan Sunda, orang tua kita atau bapa dan indung menempati peringkat pertama. Lalu ke atas ada Aki dan Nini, yaitu orang tua Bapa/Indung. Berlanjut ke Uyut, yaitu orang tuanya Aki Nini. Lalu loncat ke Bao atau Canggah, orang tua Uyut. Selanjutnya adalah Janggawareng, yaitu orang tuanya Bao. Tingkat berikutnya adalah Udeg-udeg, yaitu orang tuanya Janggawareng. Tingkat ketujuh adalah Kakait Siwur/Kaitsiwur atau Gantung Siwur. Seterusnya ke atas disebut Karuhun.
Paling banter, orang biasa semodel saya yang bukan menak dan ningrat hanya tahu leluhurnya sampai tingkat uyut saja. Itu yang paling umum. Untuk menyebut Janggawareng atau Udeg-udeg, sudah sulit luar biasa. Mengapa demikian? Karena pewarisan pengetahuan tentang leluhur kita tidak disertai dengan catatan-catatan, arsip dan dokumentasi yang baik. Akibatnya, kita kesulitan untuk melacak jejak leluhur kita. Selama ini kita hanya mengandalkan cerita lisan, dongeng turun temurun dari para orang tua kita bahwa leluhur kita adalah si anu, si B dan si C.
Kalaupun kita mengetahui nama dari leluhur kita, itu pun tidak dibareng dengan kisah atau setidaknya tempat tanggal lahir, tempat tanggal meninggal. Berbeda dengan keluarga menak. Mereka memiliki genealogi yang lengkap sebagai justifikasi bahwa mereka benar keturunan menak. Kebanyakan di Sunda, keluarga menak menghubungkan dirinya dengan patron di atas seperti Bupati dan tentu trah Siliwangi dan Pajajaran atau Sunan Gunung Djati dengan keraton Cirebonnya.
Begitu pula dengan orang Belanda, mereka dikenal sangat disiplin dalam menuliskan silsilah keluarga. Genealogi mereka tersambung dari satu generasi ke generasi lainnya hingga merentang waktu berabad-abad.Tak heran kang Hans Haijer, keturunan Indo Belanda mampu menelusuri silsilah keluarga hingga rentang waktu tahun 1500-an.
Acara Ngampar Samak merupakan kegiatan Tjimahi Heritage di dalam ruangan. Biasanya kami menggelar jelajah setiap bulannya. Sebagai selingan dan refreshing, kami gelar Ngampar Samak untuk ajak diskusi anggota. Minggu kemarin menjadi kesempatan bagi teman-teman Tjimahi Heritage untuk mendengarkan riwayat keluarga kang Hans. Dimulai dari perjalanan leluhur van Meijden atau van Meiden asal Utrecht atau Groeningen yang kemudian berlayar ke Maluku. Di sana keluarga Meiden ini bercampur baur dan menikah dengan warga setempat. Salah satunya dengan keluarga Kapiten Cina di Ambon, yang menurunkan keluarga Nio. Dari Ambon keluarga van Meiden ini menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Cimahi dan Bandung. Salah satunya adalah ayah dari kakek buyutnya kang Hans, yaitu Andries van der Meiden/Rijken. Dia adalah seorang pegulat dan tentara KNIL.Andries lahir di kota Culemborg Provinsi Gelderland pada 23-04-1889 dan meninggal di Bandung 02-12-1940, dimakamkan di TPU Pandu.
Menurut kang Hans, berdasar cerita keluarga yang di Belanda, Andries van der Meiden pernah menjuarai pertandingan gulat tingkat Provinsi di Gelderland sekitar tahun 1909-1910. Dan sewaktu tinggal di sini, beliau masih menekuni hobinya.
Waktu itu di Bandung ada hiburan rakyat dan ada yang memamerkan banteng dengan ukuran yang sangat besar dan agresif ,terus yang punya membuat sayembara siapa yang berani melawan banteng nya sampai mati akan di berikan hadiah yang sangat besar,Andries pun menawarkan diri untuk melawan banteng itu.
Besok nya Andries meminta izin kepada pemerintah kolonial untuk diizinkan melawan banteng itu, tetapi pemerintah kolonial tidak mengizinkan. "Itulah salah satu cerita tentang Andries menurut kakek saya dan keluarga di Belanda," begitu tutur kang Hans.
Foto Johanna van der Meiden bersama temannya didampingi sang ayah, Andries van der Meiden.
Sumber: Koleksi keluarga Hans Haijer
Namun yang paling menarik dari riwayat Andries van der Meiden ini adalah kisah cintanya yang sangat romantis, tak kalah dengan Romeo en Juliet. Andries bertemu dengan seorang gadis asal Majalengka, Enneh. Mereka kemudian menikah dan tinggal di Cibangkong Bandung. Sempat pula tinggal di daerah Leuwimuncang dan Kolmas Cimahi. Dari pernikahan itu, lahirlah Johanna van der Meiden, nenek buyut kang Hans.
Menurut Hans, saat melahirkan, ibu Enneh kesakitan luar biasa, karena bayi Johanna berbadan besar. Ketika ibu Enneh meninggal pada tahun 1937, Andries sangat terpukul. Ia pun depresi, mengurung diri di dalam rumah. Ia sering mengunjungi makam ibu Enneh di pemakaman Leuwigajah.
Suatu hari di puncak stres depresi dan rasa frustrasinya, Andries menyuruh pembantu untuk membelikan braso, cairan pembersih sepatu. Secara diam-diam, di dalam kamarnya, Andries mengakhiri hidup dengan cara meneguk cairan braso. Ia meninggalkan surat wasiat yang dikirim ke Belanda dan mengakui soal bunuh diri itu.
Ibu Enneh Anamah (tengah) bersama Andries
van der Meiden dan anaknya, Johanna
Sumber foto: Koleksi keluarga Hans Haijer
Dari penuturan kang Hans, terungkap bagaimana rapinya sistem dokumentasi dan arsip di Belanda. Hal yang jarang kita temui di Indonesia. Ketika kang Hans mengontak keluarga di Belanda yang satu keturunan dengan dirinya, mereka tidak langsung percaya. Tapi setelah kang Hans menunjukkan bukti-bukti berupa alur genealogi dan beberapa foto, mereka langsung welcome. Bahkan sejumlah foto keluarga pun mereka kirim untuk disimpan Hans.
Ini pelajaran penting untuk mencari silsilah keluarga. Tips dari Hans, kunjungi makam leluhur kita. Dari batu nisan, kita bisa mendapat informasi siapa bapak dari siapa, misal Aa bin Cece. Juga kalau beruntung, mendapat info kapan lahir dan kapan meninggal. Telusuri lagi makam Cece, supaya tahu siapa bapaknya dan dimana lahirnya. Dari penelusuran itu setidaknya bisa mengetahui leluhur kita sampai 4 tingkat ke atas.
Keluarga Tjibolang
Kang Koko Kuryana pun bercerita soal keluarga Tjibolang. Tjibolang adalah sebuah nama daerah di Cimahi yang kini lebih dikenal sebagai Jalan Lurah atau Karangmekar. Salah satu leluhur Kang Koko adalah Buya Hanafi yang menjabat sebagai Lurah Cipageran pada tahun 1920-an. Kang Koko pun membawa serta foto-foto jadul keluarga Tjibolang. Luar biasanya, foto-foto itu masih awet. Padahal umur foto itu nyaris 100 tahun.
Dari silsilah keturunan keluarga Tjibolang ini lahir sosok Pak Soedarja yang pada tahun 70-an menjadi Wali Kota Jakarta Barat. Rumahnya merupakan rumah kolonial di Jalan Gatot Subroto samping SMP 6. Dulu setiap lewat Jalan Gatot Subroto, selalu melihat ke rumah tersebut yang punya ciri khas tanaman pisang kipas yang tumbuh subur di halaman. Sayang, sekarang rumah itu sudah rata dengan tanah, mungkin sudah dijual.
Sementara Bu Cintasari Herly membawa dokumen silsilah berupa diktat. Diktat itu begitu rinci menjelaskan siapa keturunan siapa. Dari pihak ibu dan ayah. Pak Herly adalah salah satu keturunan keluarga yang rupanya berasal dari Pekalongan. Dan asal usul lebih jauhnya, mereka keturunan Sunan Gunung Jati dari pihak istri asal Cina.
Lagi-lagi ini pelajaran penting bagi kita, untuk senantiasa mendokumentasikan dan mengarsipkan apapun terkait keluarga. Tujuan agar lebih memudahkan membuat silsilah dan tentu agar tidak kehilangan jejak keluarga kita sendiri. (*)
Friday, January 20, 2017
Kisah Lapangan di Cimahi
Oleh Kang Mac
SETIAP pergi ke Pasar Antri Baru dari arah Dustira, tentu melewati markas Pu
ssen Arhanud. Setiap itu pula teringat, dulu tempat itu adalah Lapangan Sriwijaya yang penuh kenangan.
Bermain bola, upacara 17 Agustus, latihan baris-baris berbaris, atau mabal alias bolos sekolah, tempatnya ya di Lapangan Sriwijaya ini. Tempat pacaran? So pasti itu mah, tiap lewat lapangan rumput hijau nan luas itu pasti bisa menyaksikan pasangan yang lagi asyik dengan dunianya.
Tempat berkelahi? Mantaap, itu lapangan menyediakan lahan sangat lega buat berduel atau berkelahi keroyokan. Mau kejar-kejaran, koprol keliling lapangan, silakan asal kuat.
Jadi pasti banyak kenangan lain yang bisa diceritakan dari satu Lapangan Sriwijaya ini. Ya hanya kenangan, karena wujud lapangan itu sudah sirna, hanya tertinggal di ingatan.
Perkembangan Cimahi menjadi kota membuat lahan semakin sempit. Lapangan-lapangan pun menjadi korban. Kini wujudnya berganti rupa menjadi rumah atau perkantoran.
Ini beberapa lapangan yang saya ingat pernah ada di Cimahi.
1. Lapangan Bonlap. Inilah lapangan legendaris untuk para pemain bola cilik di Cimahi. Di era 80-an, di lapangan Kebon Kalapa Pojok ini setiap tahun digelar pertandingan sepak bola antar klub di Cimahi.
Waktu SD kelas 6, saya pernah ikut berkompetisi di lapangan ini. Waktu itu saya memperkuat klub Angkasa, gabungan siswa-siswa SD Sukamanah I dan Cibabat. Pemain yang boleh bertanding adalah pemain dengan tinggi maksimal 150 cm. Jadi ukurannya adalah tinggi badan. Kadang-kadang ada pemain yang ketinggian, lalu memendek-mendekkan diri biar lolos di palang pengukur.
Lalu saat SMP pun saya ikut pula berkompetisi di lapangan Bonlap ini. Kali ini saya memperkuat tim Liga Buana, timnya anak-anak SMP 3 Cimahi plus. Plus karena kami menggaet juga pemain dari luar, yaitu Aldi, kakaknya Coni Dio, sebagai striker. Nama klub ini terinspirasi nama-nama toko olahraga di Jalan Gandawijaya.
Saya tidak tahu kapan terakhir digelar kompetisi bola di lapangan Bonlap. Waktu saya SMA, tahun 90-an, lapangan ini masih ada dan sering dipakai untuk panggung musik 17-an. Saya pertama kali nonton Jamrock, cikal bakal Jamrud, ya di lapangan ini.
Beberapa hari lalu saya lewat Jalan Kebon Kalapa, lapangan ini sudah hilang, berganti jadi rumah dan bengkel.
2. Lapangan Sosial. Lapangan sepakbola ini disebut Lapang Sosial karena memang milik Dinas Sosial di Cibabat, persis di samping Polres Cimahi. Pernah saya sekali diajak main di turnamen bola Kapolres Cup. Waktu itu bersama klub Gita Utama. Lagi-lagi main bersama Aldi, kakak Coni Dio. Sekarang lapangan ini sudah beralih rupa menjadi Kantor Dinsos Jabar.
3. Lapangan Kebon Kembang. Ini sebuah lapang kecil, sedikit lebih besar dari lapangan voli, di daerah Kebon Kembang. Saya pernah main di sini, waktu itu turnamen Hayam Cup. Hanya saya lupa PS apa yang saya perkuat.
4. Lapangan samping Mesjid Agung Cimahi Utara. Ini tempat saya bermain setiap sore. Kalau tidak bermain bola ya main sepeda atau nonton orang main voli. Sekali waktu digelar turnamen sepakbola untuk anak-anak. Saya memperkuat PS Martas, barisan anak-anak dari Gang Martasim Prapatan Cihanjuang, tempat kakek nenek saya tinggal. Saat ini bangunan rumah besar mengganti wujud lapangan itu.
5. Lapangan Kebon Jeruk Sukajaya. Ini sebetulnya lahan bekas kebun Jeruk di daerah Sukajaya Cibabat, persis di belakang RSUD Cibabat. Ada beberapa kavling kecil yang sering dipakai untuk bermain bola atau bermain voli. Saya bergabung dengan PS Persas (Persatuan Sepakbola Anak-anak Sukajaya), tapi belum pernah bertanding di turnamen bola. Sekarang lapangan ini sudah berubah menjadi perumahan dan permukiman.
6. Lapangan Krida Cimahi Selatan. Ini lapangan sepakbola di dekat Baros. Saya belum pernah bermain bola di lapangan ini. Hanya pernah ikut jalan sehat yang start dan finishnya di lapangan ini. Kini lapangan ini tinggal cerita, berubah menjadi kawasan Technopark Cimahi.
7. Lapangan Kebon Manggu, Kompleks Pemda Cisangkan Hilir. Saya beberapa kali main sepakbola di lapangan ini. Karena diajak teman yang tinggal di sini. Waktu itu memperkuat tim ekskul Sepak bola SMP melawan PS Pemda junior. Tempo hari saya menjenguk teman yang sakit di daerah Kebon Manggu. Saya celingukan mencari lapangan itu, tapi nihil. Ternyata sudah berubah menjadi belantara rumah. Selain di lapang besar Kebon Manggu, saya pun pernah main juga di lapangan bola samping Tempat latihan Menembak Cisangkan. Lapangannya lebih kecil, tapi cukup buat berlari dan menendang bola.
8. Lapang sepakbola Panembakan Gunung Bohong. Lapangan bolanya saat ini memang masih ada, tapi berbeda tampilan setelah dirombak Brigif. Sekali-kalinya main di lapangan ini melawan kesebelasan anak-anak Gunung Bohong. Kebetulan ada teman SMP yang tinggal di Gunung Bohong dan mengajak main bola.
9. Lapangan Gamblok, Ciuyah. Ini salah satu lapangan yang pernah didatangi untuk berolahraga sekaligus piknik saat saya SD. Dari Tagog, lagi-lagi kami berjalan kaki berombongan, konvoi berbaris dua-dua menyusuri Margaluyu-Kandang Uncal-Ciawitali hingga Ciuyah. Beberapa waktu lalu bersepeda ke daerah Ciuyah, sengaja mencari lapangan itu. Tapi tak menemukan. "Lapangna tos janten perumahan, Cep," begitu kata seorang warga.
Itulah beberapa lapangan yang dulu pernah ada dan kini tinggal kenangan. Kalau lapangan punya militer, jangan ditanya, pasti terawat dan masih eksis. Contohnya Lapangan Rajawali atau Lapangan Arhanud, tempat saya berlatih bola saat SMP. Belum lagi lapangan-lapangan di beberapa pusdik, pasti masih mulus.
Masih banyak atau ada lapangan-lapangan, lahan terbuka, yang sudah berubah wujud di Cimahi. Entah jadi rumah, kantor, atau gedung. Ayo ceritakan kisah kalian tentang lapangan-lapangan di Cimahi. (*)
Friday, January 13, 2017
TUAN WOUTERS
MINGGU kemarin, ayah saya berkunjung ke rumah. Seperti biasa, mampir sebentar setelah jalan sehat di Brigif. Selalu jalan kaki dari Cigugur menuju arah mana pun. Dalam setiap obrolan kami, tentu saja cerita-cerita tentang Tjimahi masa silam selalu diperbincangkan.
Bapak saya bukan orang asli Tjimahi. Ia datang dari Tasikmalaya pada tahun 1955-an, untuk menjadi santri di Pesantren Hegarmanah dan madrasah ustad Ingin di Sentral Cibabat. Usianya kini sudah 71 tahun. Itu berdasarkan KTP. Padahal ia masih ingat waktu Jepang datang ke Tasikmalaya. Itu berarti, bapak saya lahir sebelum 1942 dan usianya sangat mungkin lebih dari usia di KTP.
Obrolan kemarin mengupas soal kondisi Tjibabat, khususnya Sukajaya. Bapak saya bercerita, bahwa rumah besar dan tua di belakang Yogya Dept Store Cibabat yang ditinggali Tante Mumu itu dulunya ditinggali Tuan Wouters, seorang pengusaha peternakan.
Sukajaya kata bapak saya, dulunya hamparan kebun rumput untuk memasok pakan ternak sapi dan babi milik Tuan Wouters. Sementara di sebelah utaranya, tepat di belakang RS Cibabat adalah kebun jeruk.
Sayangnya tidak ada keturunan tuan Wouters yang tinggal di Cimahi setelah tahun 60-an. Semua meninggalkan Indonesia, kembali ke tanah leluhur mereka, Belanda. Tante Mumu mendapatkan rumah peninggalan Tuan Wouters itu dari proses jual beli.
Penasaran dengan nama Wouters, saya mencari-cari di buku telepon jaman Belanda. Voila! Eh Eureka. Ternyata ada nama JH Wouters beralamat di Tjibabat. Dan persis, dia seorang pengusaha peternakan susu dan juga budidaya bunga.
Di buku telepon itu juga tertulis nama pengusaha peternakan sapi lainnya di Cimahi, yaitu J Timmermans Veldizcht. Tapi tidak tahu, lokasi peternakannya di sebelah mana. Dan tentu saja tercatat nama pengusaha besar peternakan sapi di Lembang, PA Ursone, pemasok susu ke BMC dan seantero Bandung. (*)
Tuesday, November 8, 2016
Kiprah Pesepakbola Asal Tjimahi di Timnas Hindia Belanda
Oleh Kang Ope*
PERSEPAKBOLAAN di
Hindia Belanda dahulu telah melahirkan beberapa klub lokal yang berkualitas,
sebut saja di Kota Bandoeng ada L.A. = Luchtvaart Afdeeling, L.U.N.O. = Laat
U Niet Overwinnen, Sidolig = Sport in
de open lucht is gezond, U.N.I. =
Uitspanning Na Inspanning.
Siapa sangka di Cimahi Baheula juga ada klub sepakbola yang mengikuti
turnamen di Kota Bandung melawan klub-klub sohor yang penulis sebutkan tadi.
Velocitas van Tjimahi nama klub tersebut, bermarkas di Velocitas Terrein atau Lapangan Rajawali sekarang, adalah wadah resmi klub sepakbola yang
sejatinya berisikan pemain dengan latar belakang militer. Sementara rival
mereka di Bandung juga mendirikan klub sepakbola dengan materi para personel
militer dengan nama klub SPARTA Bandoeng yang bermarkas di Lapangan Sparta yang
kini menjadi Stadion Siliwangi.
Kiprah klub sepakbola Velocitas van Tjimahi
pada Turnamen Sepakbola di Kota Bandung, yang digelar dari tahun 1915 hingga
tahun 1939 mampu meraih juara sebanyak 2 kali, yaitu pada musim 1927/1928
dan musim 1931/1932. Selain itu, Velocitas van Tjimahi berhasil menelurkan seorang striker
berkelas bernama S. Lontoh, yang kelak mengisi posisi striker utama di Tim
Nasional Hindia Belanda.
S Lontoh mengawali karier di Tim Nasional Hindia
Belanda saat melakukan sejumlah pertandingan resmi FIFA di Manila Filipina yang
berjuluk Far Eastern Games. Ia bersama ke-20 pemain lainnya dipanggil
memenuhi tugas membela Hindia Belanda. Ke-20 pemain tersebut diantaranya adalah
Asmoeadji, Amrein,Baumgarten, Caumans, Denkelaar, Goyers, Hiangwan, Hong Djien,
Jahn, Johannes, Kok Bo, Lontoh, Meeng,Nawir, Gnong Rhorig,Titalepta, Tjan Hin
Kie, Tjin Hoat, dan De Wolff. Ke-20 pemain tersebut menjalani pemusatan latihan
di Cimahi pada bulan April 1934 selama satu minggu.
S. Lontoh menurut laporan resmi RSSSF
(sebuah wadah statistik pertandingan sepakbola dunia) mencatat bahwa dia hanya
satu kali membela Tim Nasional Hindia Belanda yakni pada tanggal 19 Mei 1934
dengan mencetak 2 gol. Kedua gol tersebut ia peroleh saat Hindia Belanda
membantai Tim Nasional Jepang dengan skor fantastis 7 – 1 di Manila.
Satu
peringkat di bawah topskor sepanjang masa Tim Nasional Hindia Belanda yakni
Ludwig Jahn, pesepakbola asal Klub Hercules Batavia dan Tio Hian Goan
pesepakbola asal klub Tiong Hoa Soerabaia dengan torehan masing-masing sebanyak
3 gol. Sayangnya performa pada pertandingan kedua melawan Timnas China kalah 0
– 2, dan pada pertandingan ketiga melawan Timnas Filipina kalah dengan skor 2 –
3.
Selepas Far Eastern Games di Manila
Filipina, kiprah S. Lontoh menurun, ia tidak dipanggil lagi oleh Timnas Hindia
Belanda untuk berkiprah di pentas Piala Dunia Perancis 1938. (*)
* Kang Ope adalah Mochamad Sopian Ansori, pegiat jelajah di sejumlah komunitas, termasuk Tjimahi Heritage.
* Kang Ope adalah Mochamad Sopian Ansori, pegiat jelajah di sejumlah komunitas, termasuk Tjimahi Heritage.
Sumber :
Dutch East Indies city
Championship available online at http://www.netlibrary.net/articles/eng/Dutch_East_Indies_city_champions
De Sumatra Post edisi 09 April
1934 available online at http://www.delpher.nl/nl/kranten/view?facets%5Btype%5D%5B%5D=artikel&query=lontoh+tjimahi&coll=ddd&identifier=ddd%3A010361987%3Ampeg21%3Aa0070&resultsidentifier=ddd%3A010361987%3Ampeg21%3Aa0070
Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië edisi 10-10-1927 available online at http://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=velocitas+tjimahi&coll=ddd&page=1&facets%5Btype%5D%5B%5D=artikel&identifier=ddd%3A010221006%3Ampeg21%3Aa0106&resultsidentifier=ddd%3A010221006%3Ampeg21%3Aa0106
Dutch East Indies -
International Players available online athttp://www.rsssf.com/miscellaneous/indie-recintlp.html
Wednesday, August 10, 2016
Sekolah Tukang Kuda
Oleh Kang Mac
PEMERINTAH Kolonial Belanda benar-benar mempersiapkan kehadiran garnizun Cimahi secara matang. Semua urusan dan kebutuhan permiliteran disiapkan sedemikian rupa agar tidak menjadi kendala bagi pasukan KL dan KNIL.
Salah satu kesatuan yang berbasis di Cimahi adalah Artileri. Markas besarnya adalah Depot Mobile Artillerie (DMA). Lokasi DMA adalah yang kini ditempati Pusdik Armed Baros.
Nah pada peta Tjimahi tahun 1940 ini ada sebuah tempat bernama Hoefsmidschool. Saya penasaran apa Hoefmidschool itu. Ternyata itu adalah Sekolah Ladam Kuda alias Sakola Tukang Kuda.
Lokasinya kini ada di Jalan Terusan Tol Baros (HMS Mintaredja). Namun bangunannya tinggal sebagian, karena tergerus jalan terusan tol tersebut. Kini bangunan itu dipakai markas Zeni Bangunan Kodam III Siliwangi.
Sekolah ini dibutuhkan oleh pasukan Kavaleri dan Artileri sekaligus. Mengapa? Kavaleri tentu sudah jelas karena urusannya dengan perkudaan. Nah Artileri pun membutuhkan tukang ngurus kuda ini, karena DMA memakai meriam-meriam gunung yang berat banget yang ditarik oleh kuda. Kuda-kuda itu dikandangkan di Istal-istal kuda di kompleks Basis.
Tahun 1936, Direktur Hoefsmidschool ini adalah seorang militaire Paardenarts (dokter hewan militer bagian kuda), yaitu J. R. G. la Bastide. Sedangkan pada tahun 1939, la Bastide diganti oleh Jhr. Dr. W. Strick van Linschoten. (*)
PEMERINTAH Kolonial Belanda benar-benar mempersiapkan kehadiran garnizun Cimahi secara matang. Semua urusan dan kebutuhan permiliteran disiapkan sedemikian rupa agar tidak menjadi kendala bagi pasukan KL dan KNIL.
Salah satu kesatuan yang berbasis di Cimahi adalah Artileri. Markas besarnya adalah Depot Mobile Artillerie (DMA). Lokasi DMA adalah yang kini ditempati Pusdik Armed Baros.
Nah pada peta Tjimahi tahun 1940 ini ada sebuah tempat bernama Hoefsmidschool. Saya penasaran apa Hoefmidschool itu. Ternyata itu adalah Sekolah Ladam Kuda alias Sakola Tukang Kuda.
Lokasinya kini ada di Jalan Terusan Tol Baros (HMS Mintaredja). Namun bangunannya tinggal sebagian, karena tergerus jalan terusan tol tersebut. Kini bangunan itu dipakai markas Zeni Bangunan Kodam III Siliwangi.
Sekolah ini dibutuhkan oleh pasukan Kavaleri dan Artileri sekaligus. Mengapa? Kavaleri tentu sudah jelas karena urusannya dengan perkudaan. Nah Artileri pun membutuhkan tukang ngurus kuda ini, karena DMA memakai meriam-meriam gunung yang berat banget yang ditarik oleh kuda. Kuda-kuda itu dikandangkan di Istal-istal kuda di kompleks Basis.
Tahun 1936, Direktur Hoefsmidschool ini adalah seorang militaire Paardenarts (dokter hewan militer bagian kuda), yaitu J. R. G. la Bastide. Sedangkan pada tahun 1939, la Bastide diganti oleh Jhr. Dr. W. Strick van Linschoten. (*)
Subscribe to:
Posts (Atom)











