Monday, June 24, 2019

RSUD CIBABAT, Awalnya Klinik Kesehatan di Zaman Jepang

MUNGKIN RSUD Cibabat adalah rumah sakit yang paling sering gontaganti letak gerbang masuk.  Dulu sih jalan cuma satu, ya di tengah. Belakangan diganti jadi kirikanan. Lalu ganti ke tengah lagi. Sekarang sudah permanen, masuk dari gerbang kiri, keluar dari gerbang kanan. Bekas gerbang tengah dijadikan taman dan tempat plang nama RSUD Cibabat.



Ya katanya sih buat pengembangan RSUD. Tapi pengembangan ini membuat hilang salah satu ciri khas dari RS Cibabat. Apa itu? Pohon Pinus (Pinus merkusi). Dulu di bagian depan RSUD ini terbentang taman yang penuh pohon pinus berumur puluhan tahun. Tinggi besar menjulang ke langit. Oleh anak2 cibabat, suka dijuluki Si Raja Langlayangan. Karena pohon pinus penuh oleh layang-layang yang nyangkut.


Dulu, diantara pohon-pohon pinus itulah mimin dan anak-anak Sukajaya, termasuk Asisten Perekonomian Pemkot Cimahi Dikdik S Nugrahawan, bermain sepak bola. Rumputnya yang subur sangat genaheun untuk nyleding. 2 pohon pinus jadi tiang gawang di sebelah kulon dan wetan. Menggocek bola diantara pohon pinus yang menjelma jadi pemain sayap dan tengah.


RS Cibabat juga jadi saksi anak-anak pemberani yang mencari jangkrik pada malam hari di dekat kamar mayat. Biasanya di jalan banyak jangkrik conat dan bike, tapi di dekat kamar mayat selalu ada Jangkrik Kalung. 


RSUD Cibabat sendiri punya sejarah yg panjang juga. Sebelum tajun 1940-an, RS Cibabat ini dipakai sbg rumah dinas orang Belanda, yaitu Tuan Rydee, Kepala GBO (Hebe kata orang sunda mah. GBO itu PLN jaman breto).


Jaman Jepang, bangunan dipakai untuk klinik kesehatan. Pengelolaan klinik diserahkan kepada Prpf RH Moechamadsyah Sastrawinangoen DSOG. Beliau sebelumnya buka klinik di Jl Kaum Kaler Cimahi.



Masa revolusi, klinik kesehatan ini berfungsi juga sbg Markas BKR dan Balai Pengobatan bagi tahanan perang dan masyarakat sekitar.


Tahun 1947, masa pengungsian, Pak RH Moechamadsyah pindah tugas jadi Kepala Kesehatan Priangan Timur di Tasikmalaya. Klinik kesehatan Tjimahi dikelola oleh dr Supardan. Fungsinya bertambah lagi sebagai kantpr PMI.


Tahun 1949, pemerintah meningkatkan status klinik jadi RS Pembantu Cibabat yang dikelola oleh Mayor dr Vogelsang.


Tahun 1950, RS Pembantu Cibabat dikepalai oleh dr Sanitioso. Kita tahu rumah dan tempat praktek dr Sanitioso yg pernah dipakai sebagai markas Polisi Istimewa saat ini sudah rata dengan tanah dijadikan tempat parkir BJB JalanAmir Machmud seberang Prapatan Cihanjuang.



Tahun1973, dr Sanitioso diganti oleh dr Abikusna, waktu itu kadinkes KabBandung. Status RS Pembantu meningkat jadi RS Umum Kelas D.


Tahun 1978-1984, direktur RSU Cibabat djjabat oleh dr Nina Sekartina. 1985, dr Umbaran Tisnamihardja jadi Direktur RSU Cibabat sampai 1995. Tahun 1987, status RSU Cibabat naik jadi Kelas C.



Tahun 1995-1999, Direktur RSU Cibabat dijabat dr H Idik Djumhali MARS.




Tahun 2000, jabatan Direktur RSU Cibabat dijabat dr H Hanny Ronosulistyo SpOG. Itu loh dokter yang ngasuh acara Buka Pintu di Radio Mara, acara soal masalah seks. 



Tahun 2007 sampai 2010, Dirut RSUD Cibabat dipegang dr Erli Suparli Adiwikarta MM.

Selanjutnya dr Endang K Wardani menjabat mulai 2010 sd 2012. Lalu kembali dijabat dr 
Erli. 


Sejak 2016, dr Trias Nugrahadi menjabat Dirut RSUD Cibabat sampai sekarang. 

(*)

Thursday, February 21, 2019

KOLMAS

ADA yang enggak tahu nama Kolmas? Orang Cimahi mah pasti tau atuh nama Kolmas. Nama sebuah jalan yang membentang dari Cimahi hingga ke Baru Ajak Lembang Orang Jakarta saja, tahu jalan ini sebagai jalan alternatif ke Lembang. Ketenaran nama jalan ini setara lah dengan Jalan Gatsu, Jalan Otista, Jalan Sudirman di Bandung.



Saking legendarisnya, banyak orang menyangka Kolmas itu benar-benar nama. Padahal Kolmas adalah singkatan dari Kolonel Masturi. Ya Kolonel Masturi, atau lengkapnya Kolonel Anumerta R Masturi Purwasuganda diabadikan sebagai nama jalan. 

Pak Masturi lahir di Bandung, 14 Maret 1925. Bagaimana kiprahnya di masa kemerdekaan, tidak banyak orang yang tahu. Informasi yang diketahui, hanyalah bahwa Masturi pernah menjabat sebagai Bupati Bandung 1967-1969. Masturi menggantikan bupati R Memed Ardiwilaga. 

Saat diangkat jadi Bupati, pangkat Pak Masturi ini masih mayor.Masa jabatannya singkat, 2 tahun. Karena keburu meninggal pada 4 Juli 1969. Tugas Pak Masturi ketika itu tak ringan. Indonesia baru diguncang pemberontakan G 30S/PKI. Sisa-sisa kekuatan PKI masih ada di pelosok-pelosok. 

Akhir 1967 di Pangalengan, muncul gerombol sisa-sisa PKI. Gerombolan ini bermarkas di Gunung Kencana dan  bergerilya di Perkebunan Srikandi. Kekuatan gerombolan ini hanya 27 orang, terdiri atas warga keturunan Tiongkok dan menamakan diri Tentara Pembebas Republik Indonesia (TPRI). Tapi berkat kerja sama ABRI dan masyarakat, TPRI berhasil ditangkap. 

Di masa Bupati Masturi, Pemkab Bandung melaksanakan program kerja yang disebut Repeh Rapih Kertaraharja. Repeh Rapih Kertaraharja adalah semboyan Kabupaten Bandung yang dimaksudkan untuk mengusahakan memenuhi hajat hidup rakyat banyak mengangkat sembilan bahan pokok (sembako), terutama beras yang pada waktu itu sebelumnya mengalami krisis dan mengembalikan ketertiban serta keamanan masyarakat yang telah terganggu akibat terjadinya peristiwa G30S/PKI. 

Saat pemerintahannya, Masturi merombak organisasi Pemda Kabupaten Bandung. Repelita (rencana pembangunan lima tahun) mulai dikerjakan pada 1 April 1969 sesuai jadwal. Baru saja Repelita dilaksanakan selama 2 bulan, Masturi meninggal dunia pada Jumat 4 Juli 1969 setelah menjabat Bupati Bandung selama 2 tahun 4 Bulan. 

Untuk menghargai jasa-jasanya terutama dalam hal pembinaan Orde Baru, pencegahan munculnya kembali sisa-sisa G30S/PKI, mewujudkan situasi dan kondisi yang cocok untuk memenuhi pembangunan serta menyusun Repelita Kabupaten Bandung, DPRDGR Kabupaten Bandung memutuskan untuk memberi gelar "Pahlawan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung" bagi Kolonel Anumerta Masturi.



Mungkin belum tahu juga, kalau Kolmas itu adalah ayahanda BuAtty Suharti, Wali Kota Cimahi periode 2012-2017. Juga ayahnya Pak Wildan Masturi (alm), pernah jadi Kadis Pertambangan di Pemkab Bandung. Pak Masturi dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. (*)

Saturday, October 14, 2017

DAENG MUHAMMAD ARDIWINATA

NAMANYA diabadikan menjadi nama jalan, menggantikan nama Jalan Cihanjuang.  Nama Daeng identik dengan orang Bugis. Ya karena kakek Daeng Muhammad Ardiwinata adalah orang Bugis Makassar yang menikah dengan orang Sunda.
 

Ayah Daeng M Ardiwinata bernama Daeng Kanduruan Ardiwinata, seorang nasionalis yang juga salah seorang pendiri Paguyuban Pasundan. Dialah sastrawan Sunda yang pernah menerima penghargaan dari Belanda "Ridder in de Orde Van Oranye Nassau", karena jasanya di bidang budaya.



Daeng Muhammad Ardiwinata tinggal dan besar di Cimahi. Setelah lulus MULO, keburu Jepang datang. Daeng masuk pendidikan  Peta di Bogor. Ketika batalyon IV Peta di Cimahi bubar, Daeng bergabung dengan BKR, lalu TKR.
 

 Kompi Daeng begitu sebutan untuk pasukannya. Tergabung dalam Batalyon IV Momon Resimen 9 Gandawijaya yg bermarkas di Cililin. Kompi 1 Daeng berkedudukan di Cibabat-Cibeureum sampai Fokkerweg (kini Jln Garuda) Bandung.
 

Kompi Daeng inilah yang terlibat dlm berbagai medan pertempuran di Cimahi. Antara lain pencegatan konvoi tentara sekutu, bersama Hizbullah menyerang pabrik senjata ACW cabang Cibabat,
Pertempuran Alun-alun, pertempuran Cibabat, pertempuran Prapatan Cihanjuang dan yang paling heroik, pertempuran 4 hari 4 malam.
 

Dari kompi, pasukan Daeng berkembang jadi Batalyon 25, lebih terkenal dgn sebutan Batalyon Daeng.
Dari Cimahi, Batalyon Daeng ditarik ke Resimen 8 dan ditempatkan di Panjalu Garut dan Pangalengan.
Perjanjian Renville memaksa pasukan Siliwangi hijrah ke ibukota Yogyakarta.
 

 Batalyon Daeng turut menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Batalyon Daeng ditugaskan untuk membersihkan dan mengamankan lapangan terbang Maospati Madiun dan merebut kembali Cepu dari penguasaan PKI.
 

Saat longmarch bersama Pangdan Siliwangi Letkol Daan Yahya ditawan Belanda. Mereka dan juga Komandan CPM Cimahi FE Thanos ditahan di Nusakambangan. 
Akhir 1949 setelah pengakuan kedaulatan, Daeng menjadi Komandan Resimen 063/Sunan Gunung Djati Cirebon.

Tahun 1951 ia mengundurkan diri dari TNI.  Soal pengunduran diri ini ada banyak versi. Ada yang bilang karena sakit. Ada juga yang bilang karena menolak penugasan ke Makassar. Entah mana yang benar.  Pangkat terakhirnya adalah Kolonel.
 

 Pada tahun 1954 ia mendirikan partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) bersama Kolonel Abdul Haris Nasution dan Kolonel Gatot Subroto dan diangkat sebagai Ketua IPKI Jawa Barat.
 

Pada tahun 1955 sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) RepubIik Indonesia
 

Pada tahun 1960 sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
 

Pada tahun 1967 s/d 1970 menjabat Direktur PPN Dwikora IV Perkebunan Teh di Subang.
Daeng tak pernah mengambil gaji dan pensiunan dari militer. Ia hanya membawa gaji saat jadi anggota DPR
Jabatan terakhir beliau adalah Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB).
 

Daeng wafat di usia 77 tahun tepatnya 15 April 2000. Sebelum wafat, Ia menolak dimakamkan di TMP Cikutra. Daeng lebih memilih dikebumikan di samping kuburan istrinya, Siti Rukayah, di Kampung Juntigirang Desa Banyusari Kecamatan Katapang Kab Bandung. Ketika itu ia meninggalkan 5 anak dan 11 cucu. (*)

Sumber tulisan: www.dickyrahmadie.blogspot.com

Tuesday, September 12, 2017

Abattoir Tjimahi, Usianya Hampir 101 Tahun

TAHU kan ini bekas bangunan apa? Yup, ini bekas Rumah Pejagalan Hewan (RPH) Cimahi. Lama terbengkalai, tak tentu nasibnya. Beberapa tahun lalu sempat diisukan bakal menjadi apartemen. Baliho iklannya segede gaban, tapi tidak tahu juntrungannya.
 

RPH Cimahi ini punya sejarah panjang, merentang sekitar 101 tahun. Wow!. Di zaman Belanda, namanya tentu bukan RPH, tetapi Abattoir, rumah jagal kecil. Begini cerita soal Abattoir ini. De Preanger Bode, koran berbahasa Belanda, 11 Januari 1913, memberitakan rencana pendirian rumah jagal di Bandung dan Cimahi. Perusahaan yang akan membangunnya adalah Jenne & Co di Batavia. Jenne & Co adalah importir sapi asal Australia dan bawang putih.
 

Koran Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 18 Oktober 1916 memberitakan soal pembukaan abattoir Tjimahi ini. Pengelola Abattoir ini ya Jenne & Co tadi itu. Lokasinya berada di Schoolweg (Jalan Sekolah). Sekarang namanya berganti jadi Jalan Sukimun, untuk mengenang pejuang Sukimun yang tewas ditembak Belanda di Baros.
 

Saat pembukaan abbatoir, pengelola mengundang para wartawan. Maka diperlihatkanlah sistem pemotongan ternak yang praktis, sangat efektif, lebih higienis, dan lebih etis. Pengaturan tempat pemotongan hewan dibuat sedemikian rupa, sehingga hewan yang akan dijagal tidak tersiksa.
 

Daging dari abattoir ini kebanyakan didistribusikan ke barak-barak tentara KNIL. Ingat, Cimahi itu garnizun militer. Kampement 4e dan 9e (sekarang jadi Pusdikhub dan Pusdikbekang) jadi markas utama tentara KNIL. Selain Bergartilleri (Yon armed 4), Depot Militaire Artillerie (Pusdik Armded), dan Genitropen (pusdik Pengmilum). Pasokan daging dari abattoir inilah yang menyumbang kalori terbesar untuk serdadu2 KNIL.
 

Dalam pemberitaan itu disebutkan pula, pembangunan Abattori menelan biaya 35.000 gulden. Kapasitas pemotongan mencapai 10 ekor hewan per hari. Dalam Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 1 Juni 1927, disebutkan, rumah pejagalan Tjimahi dibeli oleh Pemerintah Daerah Priangan senilai 25.000 gulden dari NV Handelmaatschapaij Jenne & Co. Pemberitaan berikutnya pada 24 Juni 1927, RPH ini diserahkan Pemerintah Daerah Priangan kepada suatu badan usaha milik pemerintah di Kabupaten Bandung.
 

Entah sampai kapan RPH ini berfungsi. Yang pasti sejak tahun 80-an, kondisinya sudah memprihatinkan. Kini bangunan itu dihuni beberapa keluarga. Entah apa kaitannya dengan RPH. (*)

Sunday, September 3, 2017

Riwayat Bioskop Rio



Satu-satunya bangunan bioskop zaman Belanda  di Cimahi yang gedungnya masih bertahan. Namun bioskopnya sudah gulung layar.
Bioskop Rio merupakan bagian dari jaringan bioskop Elita Concern. Siapa lagi yang punya jaringan bioskop itu kalau bukan Si Raja Bioskop, FAA Busè.
 

Ya Busè adalah pemilik sejumlah bioskop kelas atas  di Bandung. Sebut saja nama bioskop Elita, Varia, Oriental, Luxor, Majestic dan Rex.  Pembangunan bioskop Rio ditandai dengan peletakan batu pertama oleh anak FAA Busè, Yvonne Francois Busè, pada 23 Oktober 1937.
 

Dari penelusuran admin TH, berdasarkan pemberitan koran2 lawas Belanda seperti De Preangerbode dan Batavianieuwsblad, bangunan bioskop sempat mengalami kerusakan dan baru bisa dioperasikan pada tahun 1947. Film pertama yang diputar berjudul Pardon My Sarong pada 23 Maret 1947. Lalu pada tanggal 31 Maret memutar film berjudul Tall in the Saddle.
 

Sejak itu Bioskop Rio konsisten memutar film2 Hollywood antara lain film Always in My Heart dan Now Voyager. Tak ketinggalan Rio pun memutar film Indonesia. Tjitra pada tahun 1951 dan Bakti pada 1955.
 

Bioskop Rio pun sempat dijadikan tempat kampanye pada Pemilu 1955, antara lain oleh Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) bentukan AH Nasution.
 

Tahun 70-an sampai 80an, bioskop Rio dibanjiri film-film Mandarin khususnya kungfu. Nama2 beken seperti Wang Yu, Bruce Lee, Chen Lung, dan Lie Lien Cheh menghiasi poster film di depan dan lobi bioskop.
 

Film nasional berkelas seperti Sunan Kalijaga, Saur Sepuh juga diputar di sini. Selain poster, Rio pun mengandalkan selebaran pamflet yang disebar melalui mobil berpelantang keliling Cimahi. Anak-anak selalu berebutan selebaran itu setiap dilempar ke luar mobil.
 

Tahun 90an, ketika booming film esek-esek, Rio pun tak ketinggalan. Film Gadis Metropolis, Ranjang Berdarah, Setetes Noda Berdarah dengan poster besar terpajang vulgar.
 

Itulah hari-hari suram dan terakhir bioskop Rio. Bioskop yang dulu jadi kebanggaan warga Cimahi perlahan mulai surut dihajar zaman. Sampai akhirnya gulung layar.
 

Bangunannya sempat menganggur. Sekitar tahun 2010an, bioskop direvitalisasi. Sebagian besar masih tetap, terutama bagian atas. Namun bagian depan tembok dinding depan dan samping hilang. Padahal di situ ada plakat pendirian bangunan. Kini wajah Bioskop Rio berubah menjadi konter ponsel. (*)

Friday, March 3, 2017

Amir Machmud, Jenderal dari Pelosok Cibeber

Oleh Kang Mac

                                                           
                                                               Sumber: Buku Otobiografi Amir Machmud "Prajurit Pejuang"

ADA yang kenal dengan sosok remaja berusia 14 tahun ini? Tentu sulit mengenalnya. Tapi kalau disebutkan bahwa remaja tampan itu bernama Amir Machmud, pasti ingatan akan melayang pada sosok bertubuh besar yang pernah menjabat Mendagri di masa Orde Baru. Atau setidaknya nama itu tersangkut pada memori pelajaran sejarah, saat membahas soal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). 

Ya, Amir Machmud bersama dua jenderal lainnya, yaitu Basuki Rachmat dan M Jusuf, lah yang menghadap Presiden Sukarno di Istana Bogor dan pulang membawa Supersemar untuk diserahkan kepada Jenderal Soeharto. Dari situlah, asal mula Orde Baru muncul dan berjaya selama puluhan tahun.

Amir Machmud adalah sosok pituin, asli, kelahiran Cimahi. Ia lahir di Kampung Nyenyerean, sebuah kampung kecil di pelosok Cibeber, Cimahi Selatan, 21 Februari 1923. Ayahnya Atang, ibunya bernama Nyimas Ganirah. Ayahnya bekerja sebagai pegawai di apotek Militair Hospitaal Tjimahi atau yang sekarang menjadi RS Dustira. Kelak, jalan di sebelah barat rumah Amir Machmud di Cibeber dari mulai belakang Unjani hingga ke pertigaan Ciseupan dinamakan Jalan Ibu Ganirah, merujuk pada nama ibunda Amir Machmud. Sementara jalan di depan rumah Amir diberi nama Jalan ibu Sangki, mengacu pada nama nenek Amir Machmud.

Ayah Amir berasal dari daerah Babakan, di Cianjur. Sementara ibunya adalah keturunan menak, putri dari Nyima Sangki. Nenek Amir Machmud itu merupakan keturunan keenam R Wirakusumah, Dalem Dayeuh Luhur di Purwakarta. Dari Wirakusumah itu turunlah R Rangki yang semasa hidupnya menguasai wilayah Leuwigajah dan Cibeber. Lalu R Rangki ini menurunkan R Anggadiria yang dikenal sebagai Khalifah Cimahi. Beliau menurunkan RH Abdul Halim yang menikah dengan R Nuriah, putri dari Penghulu Cimahi RH Kahpi. Dari perkawinan inilah lahir Nyimas Sangki. 



Namun menurut Amir Machmud, seperti dikutip dari buku otobiografinya Prajurit Pejuang, keluarganya pun memiliki hubungan dengan Embah Dalem Kabul yang makamnya berada di Desa Eretan, Buni Buana, Soreang. Embah Dalem ini yang dikenal dengan sebutan Embah Santoan Kabul. Salah satu putranya, Embah Dalem Kiai Abdurrahman adalah orang yang terkenal dengan sebutan Dalem Gajah, karena memiliki tiga ekor gajah. Nama lubuk di sungai yang dipakai untuk memandikan gajah-gajahnya itu disebut Leuwigajah. Kini Leuwigajah menjadi nama kelurahan di Cimahi Selatan.

Rumah keluarga Amir Machmud di Cibeber sangat luas. Malahan kata Amir Machmud, masih dari buku Prajurit Pejuang, sebagian tanah mereka dijadikan sebagai kawasan Grasland atau Kebon Jukut atau sekarang dikenal sebagai Kebon Rumput. Kebon Rumput itu digunakan sebagai lahan pakan bagi kuda-kuda milik Depot Mobiele Artillerie (DMA) yang tugasnya menarik meriam-meriam berat ke tempat latihan di Gunung Bohong atau ke medan pertempuran.  Kuda-kuda itu pun dipakai sebagai alat transportasi para perwira.

Ayah Amir Machmud juga memiliki rumah di daerah Kaum Kulon. Rumah itu diwakafkan kepada masyarakat setelah Pak Atang meninggal pada usia 93 tahun dan dijadikan madrasah. Di daerah itu, ayah Amir dikenal dengan panggilan Enggah. 

Amir Machmud merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Enam kakak beradik itu adalah:
1. RE Umar Abdullah (alm), semasa hidup menjadi pegawai pada Kantor Pekerjaan Umum Kabupaten Bandung
2. NR Eulis Sumarni, menikah dengan Njum Suwardi, pensiunan pegawai negeri dengan jabatan terakhir Kepala Kantor Pekerjaan Umum Kabupaten Bandung.
3. Amir Machmud
4. RH Kamar Toeti Achmar, anggota TNI berpangkat Kapten sampai 1948, kemudian menjadi pegawai Depdikbud.
5. NR Noecky Sukarsih, menikah dengan Mayor Hamid yang gugur di Purwakarta dalam pertempuran melawan pasukan Belanda
6. NR Bunga Nawangsih.

Usia lima tahun, Amir Machmud masuk sekolah TK (Kleuter School di Bandung). Keluarga Amir memang pindah ke Dago tahun 1926. Ketika itu ayah Amir mendapat pekerjaan yang lebih baik di Kantor Pekerjaan Umum Regentschapwerken  Bandung sebagai Wegoopziener (pengawas jalan raya) dan Rooimester (pengawas bangunan rumah)

Saat Jepang masuk menjajah Indonesia, pemuda Amir pun turut serta mengikuti pendidikan PETA. Semula ia dididik di kamp Tjimahi, lalu dipindahkan ke Bogor. Setelah Indonesia Merdeka, Amir pun masuk dalam barisan BKR, TKR, TRI dan TNI.

Seperti ditulis Wikipedia., pada tahun 1946, setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) didirikan, BKR Lembang telah diintegrasikan ke Kodam VI/Siliwangi (Divisi Siliwangi), sebuah komando regional militer yang bertanggung jawab atas keamanan Jawa Barat. Amirmachmud kemudian dipindahkan ke Bandung Utara, di mana ia membiarkan pasukannya dalam pertempuran melawan pasukan Inggris dan pasukan Belanda, yang sangat ingin mempertahankan wilayah kolonial mereka.

Amirmachmud dan KODAM VI/Siliwangi kemudian dipaksa untuk meninggalkan Jawa Barat pada tahun 1948 setelah penandatanganan Perjanjian Renville. Berdasarkan perjanjian ini, Pemerintah Indonesia dipaksa untuk mengakui wilayah yang telah diambil di bawah kontrol Belanda dan ini termasuk Jawa Barat. Di bawah komando Kolonel Abdul Haris Nasution, KODAM VI/Siliwangi dipindahkan ke Jawa Tengah. Pada tahun yang sama, Amirmachmud bergabung dengan pasukannya dalam pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun.

Pada tahun 1949, ketika masa-masa awal Belanda untuk keluar dari Indonesia, Amirmachmud dan pasukannya kembali ke Jawa Barat. Disana, Amirmachmud terlibat dalam pertempuran melawan gerakan Darul Islam, kelompok separatis yang ingin mendirikan Indonesia yang teokratis di bawah agama Islam. Pada tahun 1950, Amirmachmud juga terlibat dalam penumpasan terhadap Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), sebuah kelompok militer yang masuk ke Bandung dan mulai membidik prajurit TNI.

Setelah situasi mulai tenang, Amirmachmud memiliki karier militer yang relatif lancar dan menjabat sebagai Panglima Batalyon di Tasikmalaya dan Garut sebelum diangkat menjadi Kepala Staf Resimen di Bogor. Setelah mengabdi di Bogor, Amirmachmud menjabat sebagai Kepala Staf Panglima KODAM VI/Siliwangi.

Pada tahun 1958, Amirmachmud dipindahkan ke Jakarta di mana ia bekerja sebagai anggota staf di markas besar Angkatan Darat selama dua tahun.

Pada tahun 1960, Amirmachmud dikirim ke Bandung untuk menghadiri Seskoad. Di sana, ia belajar tentang politik dan ekonomi, mata pelajaran penting bagi seorang prajurit dalam ketentaraan, ia juga mendapatkan lebih banyak dan lebih terlibat dalam menjalankan pemerintahan. Amirmachmud juga berkenalan dengan Soeharto selama waktunya di Seskoad.

Tahun 1965, Amir Machmud diangkat menjadi Panglima Kodam V/JAYA. Dari sinilah bintang terang kariernya mencuat. Saat situasi kondisi Indonesia tak menentu pasca G30S/PKI, bersama dua jenderal lainnya, Basuki Rahmat dan M Jusuf, Amir Machmud pergi menghadap Presiden Sukarno di Istana Bogor. Banyak versi soal cerita selama mereka di Istana Bogor. Yang pasti, pulang dari Istana Bogor, tiga jenderal ini membawa surat perinta sebelas maret (Supersemar) untuk diserahkan kepada Jenderal Soeharto. Berbekal Supersemar itulah, Soeharto membubarkan PKI dan menertibkan situasi politik. Ia pun mengendalikan jalannya pemerintahan dan selanjutnya seperti kita tahu semua, Soeharto menjadi presiden Orde Baru hingga 32 tahun lamanya.

    Amir Machmud (kiri), Basuki Rahmad (tengah), M Jusuf (kanan)                                                     Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka

Bintang Amir Machmud pun naik terus. Ia didaulat menjadi Mendagri, menggantikan Basuki Rahmat yang meninggal mendadak.  Selama masa jabatannya sebagai Menteri Dalam Negeri, Amirmachmud mengembangkan reputasi sebagai orang yang "menyapu" oposisi dan pembangkang pemerintah. Hal ini membuatnya mendapatkan julukan "Buldoser". 

Amirmachmud juga menangani dengan keras orang-orang yang masuk penjara karena diduga menjadi terlibat dengan PKI. Pada tahun 1981, ia memerintahkan bahwa mantan narapidana mesti diberi pengawasan khusus.

Amirmachmud juga membantu memperkuat kontrol Suharto di Indonesia. Pada tahun 1969, ia melarang PNS untuk terlibat dalam politik, tetapi mendorong mereka untuk memilih Golkar pada Pemilu Legislatif sebagai tanda kesetiaan kepada pemerintah. Pada tahun 1971, Amirmachmud berpengaruh dalam pembentukan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI).

Selain menjadi Menteri Dalam Negeri, Amirmachmud juga Ketua LPU. Pemilihan legislatif 1971, 1977, dan 1982 diselenggarakan di bawah pengawasannya.

Pada tahun 1982, Amirmachmud terpilih sebagai ketua MPR dan seperti semua pimpinan MPR lainnya, ia juga merangkap sebagai ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Amirmachmud memimpin Sidang Umum MPR 1983 yang menghasilkan Suharto terpilih untuk masa jabatan ke-4 sebagai Presiden dengan Umar Wirahadikusumah terpilih menjadi Wakil Presiden. Di bawah kepemimpinannya, MPR juga menganugerahi Suharto gelar "Bapak Pembangunan" atas apa yang telah diraihnya.
 
Di DPR, Amirmachmud memimpin lewat undang-undang reorganisasi struktur MPR, DPR, dan DPRD, menetapkan aturan untuk partai politik, dan meletakkan pedoman untuk referendum.

 Amirmachmud pensiun setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Ketua MPR/DPR.
Amir Machmud memiliki dua anak dari pernikahan pertama dengan RH Siti Endah Chadijah, yaitu Anon Badariah dan Bambang Permadi. 

                                                 Sumber: Buku Otobiografi Amir Machmud "Prajurit Pejuang"

Istrinya meninggal di Cibeber dan dimakamkan di halaman masjid dekat rumah Amir. Di situ dimakamkan pula ayah dan nenek Amir, Sangki. Lalu uyut RH Abdul Halim dan istrinya Nuriah, dan lain-lain. Setelah istrinya meninggal, Amir Machmud menikah lagi dengan Shri Hardhani.  Amir Machmud meninggal dunia pada usia 72 tahun, tepatnya pada 21 April 1995 di Cimahi.
 Kini nama Amir Machmud diabadikan sebagai nama jalan protokol di Kota Cimahi. (*)

Thursday, February 16, 2017

Balong PE

Oleh Kang Iwan Hermawan
 
BALONG  PE demikian orang-orang menyebutnya. Berlokasi di komplek brigif 15 Kujang di daerah Baros Cimahi.
 

Entah penulisannya PE atau VE entahlah, sy liat di suatu majalah lawas Netherlands indische Leven terbitan 1930 kolam ini sudah ada dengan sebutan Visvijver yg artinya kolam ikan.
Di foto lama itu terlihat latar belakang kolam yaitu gunung padakasih dan gunung Aseupan yg keduanya sekarang mulai berubah bentuk.



                                       Balong PE di kompleks Brigif 15. Foto: Iwan Hermawan
 


 Kembali ke kolam, daerah itu dahulu merupakan padang rumput luas, rumput tersebut diperuntukan kuda-kuda penarik meriam. Penamaan PE masih misteri, mungkinkah penamaan itu ada hubungannya dengan kompleks Pusdikarmed yang dahulu mempunyai meriam artileri medan yang jika di bahasa Belandakan Veldartillerie karena lidah warga pribumi menjadi PE? Atau dari arti makanan kuda (rumput) yg disebut Paarden atau dari istilah istilah lain....entahlah....

Namun informasi tambahan yang disampaikan kang Eri Gunawan bisa jadi rujukan penyebutan nama Balong PE.  Dulu kolam itu disebut balong gede atau Balong PE. Karena balong itu dijaga oleh petugas berpakaian hijau seperti halnya hansip. Di dada kanan seragam petugas itu terdapat tulisan PE yang artinya Polisi Empang. Kang Eri yang lahir dan besar di Kompleks Ratulangi, tak jauh dari Balong PE, masih ingat komandan Polisi Empang itu bernama Pak Dekom.

Kang Eri pun mengenang Balong PE sebagai tempatnya bermain saat kecil. Ia pernah merasakan berenang memakai gedebog pisang. Di samping balong PE, ada rel lori untuk membawa rumput dari Grasland atau Kebon Jukut ke Pusdik Armed. Tempat berhenti lori di persimpangan depan mesjid. Saat ini sudah tidak ada lagi berganti jadi pos provost Brigif 15 dan koperasi Brigif 15. (*)